Mengapa kutulis untukmu, karena aku pernah berjanji menulis surat untukmu. Aku mencoba menuliskan kenangan ukhuwah di ITB tetapi, terlalu banyak sehingga aku bingung menulis yang mana. Aku menemukan hidayah di ITB, tetapi aku juga rasakan terjatuh dalam jurang yang dalam jua disana. Kurasakan pelajaran bagaimana menyuarakan kebenaran di depan pemimpin yang dhalim juga disana. Tetapi, kutemukan pemimpin yang bebal dan penuh pura-pura juga di sana.
Banyak tempat yang kusuka di sana. Di Pusda'i kutemukan kenikmatan tahajud dan air mata dalam lantunan surah Ar Rahman. Di Habiburrahman kuluapkan sesalku dalam lantunan Qur'an bersama ustadz Abdur Rahman Abdur Rauf. Di Darut Tauhid kuhabiskan ahadku untuk menamatkan satu juz tilawah qur'an. Di Mesjid Salman kumanfaatkan untuk penyegar ruhiyahku dengan shalat jamaah maghrib dan bertemu sahabat di sela-sela kesibukan. Kutemukan komunitas dakwah yang mirip Ikhwanul Muslimin juga di sana. Mengenang Bandung aku kuberdoa semoga Allah rawat hidayah ini dan Allah bersihkan diri ini dari dosa-dosa ya Ghaffar.
Sahabat, di kota itu pula kutemukan kekejaman dan kebobrokan. Kesenangan dunia digelar dalam geriap Mall dan Plaza. Orang tua bangga dengan anaknya yang bermalam minggu memakai jeans ketat dan kaos warna warni sepeti etalase Factory Outlet. Konser musik dimana-mana. Bandung adalah surga bagi siapapun yang ingin menikmati dunia. Hidup di kota gegap gempita membuatku kembali menjadi orang desa. Kubiarkan jari-jariku meloncat-loncat di atas key board, izinkan aku menceritakan petualanganku selama merefleksikan kegundahanku selama di Bandung.
Sejak bertemu Mas Amin (suami) banyak pengalaman baru dan banyak pengetahuan baru. Suamiku bernama Amin Sudarsono. Lulusan Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Suamiku anak lurah Panunggalan, Pulokulon, Grobogan. Dia alumni pondok Al Munawir Semarang. Selama di Jogja juga menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren. Dia pernah mengembara mengikuti murabinya ke Pulau Bacan Halmahera Selatan. Dia juga wartawan terbaik Banjarmasin post yang juga humas DPW PKS Kalsel. Selama di Kalsel dia mengelola dakwah sekolah dan dakwah kampus. Lingkungan social Jogja membuatnya tumbuh menjadi seorang intelektual muda, begitulah yang kutangkap dari tulisan-tulisannya yang menggambarkan betapa banyak buku yang sudah dilahapnya.
Di Bandung Mas Amin memperkenalkanku jihad intelektual Kang Jalaludin Rahmat di Kiaracondong. Tempat yang selama ini hampir tak ingin kukunjungi. Delapan tahun, mengapa aku tak pernah kesana mereguk samudera ilmu dari seorang intelektual muslim yang bukunya sangat favorit kubaca ' Rekayasa Sosial'. Aku juga tak sempat mencari majelis ta'lim Syarikat Islam yang tokohnya juga banyak di Bandung. Aku juga tak pernah hadir di pesantren NU, jam'iyah keluarga besarku yang selama ini mengajarkanku shalat dan tilawah qur'an. Aku juga tak sempat menikmati semangat dakwah Persis sebagai organisasi Islam terbesar di Jawa Barat. Aku juga tak terfikir belajar dari bagaimana jam'iyah Muhamadiyah membangun infrastruktur sosial. Selama ini, aku hanya bertemu tarbiyah. Aku terbiasa dilindungi dari berbagai aliran yang 'mungkin' sesat. Bahkan aku menjadi paranoid dengan jam'iyah lain. Astaghfirullah. Sungguh aku telah melewatkan hidupku di Bandung dari menuntut ilmu.
Di Jogja aku mengenal Kyai Mahlil yang pesantrennya mencetak banyak penulis dan sastrawan. Kisah hidup beliau yang mengajarkan kaidah menuntut ilmu yang sama seperti dalam Kitab Ta'lim Muta'allim. Mahlil remaja membakar ijazahnya. Beliau lepaskan kesempatan kuliah di Al Azhar demi taat pada ayahnya menuntut ilmu di sebuah pesantren kecil di Kajoran Magelang. Saat ini beliau mengasuh sebuah majalah pesantren namanya Fadhilah. Majalah ini salah satu dari modernisasi di pesantren NU. Saat ini Kyai Mahlil masih Ketua DPW PKB DIY. Ada keindahan yang memiliki daya tarik besar dalam jiwaku.
Aku mengenal jam'iyah ma'iyah Emha Ainun Najib yang rumahnya tak jauh dari warungku. Malam itu Jogja diguyur hujan, tapi jama'ah masih duduk lesehan beralas 'bagor' basah kuyub. Lantunan shalawat dengan aransemen gamelan Kyai Kanjeng diramu dengan essay Negeri U- RI-k u-RI-kan nya Kyai Mahlil tambah taushiyah Kyai Hafidz pengasuh pesantren Krapyak serta uraian panjang Pak Budi membuat malam itu menyenangkan. Ma'iyahan malam itu juga di meriahkan lagu 'Tak Gendong” dan Alif fathah a nya Mbah Surip dan keheranan Dr. Suzan dari Jerman rasanya tak terasa air hujan yang membasahi badanku, akupun mencoba tetap tinggal di pelataran merasakan militansi jama'ah maiyahan Cak Nun yang notabenenya adalah anak muda terpelajar. Aku sekarang mengerti mengapa dari halaqah Cak Nun ini bisa menggulingkan Suharto 98. Sebuah gerakan pembebasan, bukankah Islam adalah gerakan pembebasab manusia dari jajahan berbagai Illah selain Allah? Aku ingat Mas Amin menunjukkanku buku kumpulan puisi Lautan Jilbab yang menjadi awal perjuangan melawan pelarangan jilbab. Dahsyat nian gerakan budaya ini. Sebuah padepokan kecil di kampung bisa menggulirkan perubahan besar.
Aku dikenalkan Mas Amin ke Gus Nuri, pengasuh pesantren yang juga komandan Laskar Jihad di Jalan Kaliurang Yogyakarta. Kami ditemui di sebuah ruangan luas seperti aula. Ada pengimaman, berarti ini mesjid. Ada sebuah ruangan buatan dengan tabir kain putih di sudut kiri depan dekat pengimaman. Itu pasti ruangan i'tikaf Gus Nuri. Mesjid ini satu bangunan dengan rumah Gus Nuri di bagian belakang. Bagian dalam rumah tempat tinggal santri putri dan lantai 2 untuk santri putra. Santri putra banyak yang tidur nyenyak di dalam gulungan tikar di shaf belakang mesjid. Mesjid ini memang belum jadi, tetapi sudah aktif dipakai. Mimbarnya terbuat dari tumpukan 3 kotak botol Coca-Cola yang ditutup kain putih.
Kami disambut ummi (istri Gus Nuri) seorang muslimah dengan penampilan sederhana. Dari raut mukanya ramah, tetapi tak banyak berkata-kata. Gus Nuri memakai jubah dan sorban. Beliau senang sekali melihat kedatangan kami. Kami datang dengan seorang kawan Mas Amin memulai pembicaraan dengan memperkenalkan istrinya dan bercerita sekalimat tentang pencalegan kawan kami.
Baru sekalimat, tetapi Gus Nuri seakan-akan tahu apa yang kami fikirkan. Gus Nuri membahas tentang amanah. Kesepetlah aku tentang penceleganku yang kutinggal. Lalu dibahas pula tentang perkembangan dakwah PKS. Konsekuensi musyarakah dan distorsi perjuangan dalam manuver politik elit, tentang cita-cita Anis Matta, tentang diamnya Dr. Dayat (HNW) dan gejolak kader inti PKS yang sebagian memilih tidak ikut-ikutan dalam geriap yang bertaburan ghanimah ini. Semua mengalir, pertanyaan yang kami diskusikan di mobil tadi terjawab sudah.
Teringat aku dengan murabbiku seorang guru sederhana yang memaknai hidupnya dengan jihad. Semangat membara kader sadang Serang yang digerakkan ibu-ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Sungguh terharu melihat perjuangan kader PKS. Tapi satu, Gus Nuri mengingatkan kami untuk selalu berpegang teguh pada Qur'an dan Sunnah. Memang, ada yang lebih penting dari kegundahanku yaitu mempelajari, mengamalkan dan menyebarkan Qur'an dan Sunnah. Pertemuan kami berakhir jam 23.00 karena jama’ah Laskar Jihad sudah hadir untuk pengajian.
Neng Shinta, sekarang di ruang tamu sedang ada diskusi menarik. Tukang pijet tulang yang juga guru ngaji, sepupuku alumni Pesantren Lirboyo, dan Bapakku petani yang sempat juga nyantri di Tuban. Tentang Pemilu, banyak orang yang menganggap memenangkan partainya adalah bagian dari jihad. Bahwa belum tentu itu jihad. Dan salah jika ada caleg yang mengkampanyekan dirinya. Itu sudah ujub. Itu sudah memburu kekuasaan namanya. Ah, benar juga. Kurasakan juga godaan untuk memenangkan diriku, tapi akhirnya kupilih keluar dari gelombang. Shin, kurasakan sudah godaan harta, kekuasaan dan syahwat. Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah itu hingga ajal. Kata Pak Mat (guru ngaji) bahwa ilmu itu penting untuk menjadi landasan amal. Saat ini banyak partai Islam yang tidak memakai ilmu dalam geraknya. Ah, cerdas nian tukang pijat ini. Kesederhanaannya semakin membuatku takjub dengan kehidupannya.
Neng Shinta, disini aku mengenal Bu Nyai Shinto Nabillah sesepuh NU di Magelang guru ngaji ibuku. Beliau pengasuh Pondok Pesantren putrid Al Hidayat. Ahad lalu ada Khataman pondok yang salah satu kelompok pesertanya adalah ibu-ibu seusia ibuku. Mereka khataman Fiqih Shalat. Ada juga yang khataman Juz Amma, dan Qur'an. Dan tahun ini ada 6 hafidzah qur'an yang diwisuda. Subhanallah, tak tertahan air mataku mendengar lantunan qur'an mbak Wafiq Azizah (juara internasional qiroatil qur'an) yang membaca ayat barang siapa yang beriman dan istiqomah maka, wa la takhafu wa la takhzani waabshiru bil jannatilladzi kuntum ta'malun.....oh Allah, sinarilah hatiku dengan cahaya Al Qur'an.
Subhanallah, semangat thalabul ilmi kaum NU yang luar biasa. Nenek-nenek, orang-orang kampung yang kostumnya masih memakan kebaya dan kain sinjang. Meskipun harus menempuh jarak yang jauh mereka tetap datang untuk belajar Islam. Bu Nyai Shinto mengajarkan mulai dari fiqih thaharah hingga tafsir qur'an. Sabar sekali, tanpa terburu-buru. Tak ada kader karbitan. Kalau belum khatam fiqih ibadah belum masuk qur'an.
Aku teringat dengan kita yang ngaji dengan Rasmul Bayan dan malas kali aku membaca referensi asli buku-buku para Ulama Islam. Akhirnya, hasil dari tarbiyah Rasmul bayan ya seperti aku. Kader karbitan, tak bisa bahasa Arab tetapi mengajar Al Qur’an bahkan sudah baca Riyadu Shalihin, sedikit Fi Dzilalil Qur’an, Sirah Nabawiyah dan sedikit petikan Ihya Ulumudinnya Imam Al Gazali. Mm, yang penting terus bersemangat belajar Islam dan belajar untuk mengikuti jalan dakwah Rasulullah SAW. Iya kan…
Neng Shinta, aku tersadar bahwa aku selama ini bagai katak dalam tempurung tentu saja karena kurang ilmu. Mengapa orang tarbiyah tidak suka dengan tahlil? Karena bid'ah. Apa dasarnya. Alasannya ada tawasul ke syeikh Abdul Qadir Jailani. Tahukah mereka siapa Syeikh Abdul qadir Jailani? Aku baca buku Fathul Ghaib karangan Syeikh Abdul Qadis Jailani yang isinya penuh dengan samudera hikmah. Kutemukan kalimat-kalimat yang mengajarkan bagaimana menjadi hamba yang dicintai Allah. Bacaan tahlil juga sama dengan al Ma'tsurat. Orang membaca tahlil juga bukan meminta pada yang mati tetapi mendoakan yang mati dan juga untuk yang hidup. Aku banyak belajar bagaimana model dakwah NU bisa mencerdaskan masyarakat samapai akar rumput.
Neng Shinta, semangatku menyala-nyala setiap kali kulihat rombongan santri menenteng kitab kuningnya. Hatiku berbinar-binar melihat anak-anak sekolah madrasah yang bersepeda berombongan memenuhi jalan. Dakwah walisongo begitu luar biasa. Aku yakin geriap dakwah ini tak hanya di Jawa tapi di pelosok nusantara. Sahabat, aku ingin mengajakmu kembali mereguk samudera ilmu. Tak ada kata untuk terlambat. Titip rinduku untuk saudari-saudariku disana.