Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, DR.PH. Beliau adalah litbang depkes yang ditunjuk SBY sebagai Menkes. Selama masa jabatan Bu Siti Fadhilah Utami banyak inovasi bidang kesehatan seperti peningkatan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak, cuci tangan sebelum makan, pengembangan Puskesmas dll. Meskipun masih banyak kekurangan tetapi boleh dibilang Bu Siti Fadhilah punya kebijakan yang bisa dibaca dan melibatkan daerah dan kelompok masyarakat.
Kisah yang sangat kita ingat adalah vaksin flu burung. Dalam sebuah acara di ITB, beliau memaparkan bagaimana Indonesia dimanfaatkan oleh negara asing (baca: Amerika) dalam bidang pengembangan bisnis obat-obatan. Sampel darah pasien flu burung dikirim di lab Amerika dan mereka mengembangkan vaksin yang kemudian dikirim di Indonesia. Dan Indonesia tak tahu apa hasil laboratorium itu. Hal ini dipandang sebagai kecurangan yang merugikan Indonesia. Karena itu bu Siti Fadhilah Utami menghentikan pengiriman sampel darah itu.
Apakah Dr. Endang akan memiliki kebijakan yang lebih baik dari beliau. Lebih berani dari beliau? Kita semua tak ada yang tahu.
Indonesia saat ini berpenduduk lebih dari 220 juta yang tersebar di seluruh Indonesia. Data world Bank menunjukkan bahwa dari tahun 2007 sebesar 302/100.00 menjadi 420/100.000 kelahiran. Memang dari tahu 2004 AKI Indonesia menurun, tetapi tahun terakhir 2008 meningkat. Hal ini senada dengan profil APBD di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Kota Bandung, Kabupaten Magelang dan Kota Pekalongan. Profil APBD 2002-2007 membaik tetapi tahun 2008 justru buruk. Indikatornya adalah penurunan proporsi belanja program dibandingkan belanja pegawai. Miris memang, apakah ada hubungannya dengan Pemilu?
Siapapun menterinya, semoga memiliki political will untuk mendorong peningkatan derajat kesehatan rakyat Indonesia tidak memandang kaya dan miskin. Jadi, seorang kepala keluarga tak perlu mempertaruhkan harga dirinya dengan mengaku miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup dari negara. Bukankah negara ini dibentuk untuk mensejahterakan rakyat nusantara?
Rabu, 21 Oktober 2009
PRICING EVERY PART OF BODY
Setahun ini beberapa kali aku masuk rumah sakit. Aku harus menjalani perawatan intensif terkait dengan kehamilanku. Aku mencoba memanfaatkan layanan Rumah Sakit pemerintah di Jogja. Hampir empat jam aku menunggu sementara aku sudah mengalami perdarahan selama 2 malam. Akhirnya suamiku membawaku ke rumah sakit bersalin swasta mencari dokter spesialis kebidanan.
Tiga klinik swasta kami kunjung dan setiap klinik merekomendasikan untuk bed rest rawat inap. Setelah itu kami disodori daftar harga kamar dan tindakan medis. Akhirnya kami memilih sebuah rumah sakit swasta karena aku lelah pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu, kami memiliki sebuah warung makan. Dengan omset 168.500 per hari. Dalam sebuan ini omset kami naik menjadi 7 juta. Baru saja bisnis kami bangun, kami harus mengeluarkan biaya besar untuk perawatanku. Walaupun akhirnya aku keguguran.
Itu adalah kisahku yang menyedihkan. Karena pada 9 bulan berikutnya aku mengalami kasus yang sama, meskipun secara finansial kami sudah lebih siap.
Sepekan yang lalu aku juga sakit dan memerlukan pemeriksaan laboratorium. Aku menjalani cek darah dan ditemukan bahwa kadar trombositku menurun. Dokter memberiku obat dan menyuruhku tes darah dua hari kemudian. Obatku sangat mahal karena dokter memberiku resep obat paten. Akhirnya aku minta semua obatku diganti obat generik.
Dua pekan berikutnya aku datang kembali ke laboratorium untuk memeriksa kesehatan kandunganku. Kembali aku direkomendasikan dokter sejumlah tes untuk mengetahui kesehatanku. Petugas laboratorium kemudian menghitung biaya yang harus kubayar untuk sejumlah tes yang direkomendasikan dokter.
Aku jadi teringat kesah seorang karyawan pabrik di Amerika. Dia mengalami patah tulang di tiga jarinya. Rumah sakit kemudian menyodorkan sejumlah harga masing-masing jari. Menyambung jari telunjuk lebih mahal dari jari manis. Itu cerita dikisahkan Michael Moore dalam film "The Sicko".
Betapa sedih. Manusia dihargai dengan uang. Bukankah hidup sehat adalah hak asasi manusia? Apakah yang miskin tidak memiliki hak untuk sehat? Indonesia adalah negara yang menghargai cinta antara manusia. Bukankah cerita yang sama dengan cerita dalam film? Saya berharap negara saya tidak mengikuti contoh bagaimana Amerika memperlakukan warganya.
Tiga klinik swasta kami kunjung dan setiap klinik merekomendasikan untuk bed rest rawat inap. Setelah itu kami disodori daftar harga kamar dan tindakan medis. Akhirnya kami memilih sebuah rumah sakit swasta karena aku lelah pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu, kami memiliki sebuah warung makan. Dengan omset 168.500 per hari. Dalam sebuan ini omset kami naik menjadi 7 juta. Baru saja bisnis kami bangun, kami harus mengeluarkan biaya besar untuk perawatanku. Walaupun akhirnya aku keguguran.
Itu adalah kisahku yang menyedihkan. Karena pada 9 bulan berikutnya aku mengalami kasus yang sama, meskipun secara finansial kami sudah lebih siap.
Sepekan yang lalu aku juga sakit dan memerlukan pemeriksaan laboratorium. Aku menjalani cek darah dan ditemukan bahwa kadar trombositku menurun. Dokter memberiku obat dan menyuruhku tes darah dua hari kemudian. Obatku sangat mahal karena dokter memberiku resep obat paten. Akhirnya aku minta semua obatku diganti obat generik.
Dua pekan berikutnya aku datang kembali ke laboratorium untuk memeriksa kesehatan kandunganku. Kembali aku direkomendasikan dokter sejumlah tes untuk mengetahui kesehatanku. Petugas laboratorium kemudian menghitung biaya yang harus kubayar untuk sejumlah tes yang direkomendasikan dokter.
Aku jadi teringat kesah seorang karyawan pabrik di Amerika. Dia mengalami patah tulang di tiga jarinya. Rumah sakit kemudian menyodorkan sejumlah harga masing-masing jari. Menyambung jari telunjuk lebih mahal dari jari manis. Itu cerita dikisahkan Michael Moore dalam film "The Sicko".
Betapa sedih. Manusia dihargai dengan uang. Bukankah hidup sehat adalah hak asasi manusia? Apakah yang miskin tidak memiliki hak untuk sehat? Indonesia adalah negara yang menghargai cinta antara manusia. Bukankah cerita yang sama dengan cerita dalam film? Saya berharap negara saya tidak mengikuti contoh bagaimana Amerika memperlakukan warganya.
Langganan:
Postingan (Atom)