Jam 14.00 Jl.Asia Afrika macet. Tuanya Savoy Homan dan telinga Dewi Merak Preanger jadi saksi atas meninggalnya seorang pengemis di trotoar Departemen Keuangan Bandung..Betapa sunyi hidupnya..dan matinya...astaghfirullah...masyarakat macam apa kita ini memberi makan pengemis yang hanya segelintir itu tak bisa....
Tahukah anda Hotel Savoy Homan? Hotel Savoy Homan adalah hotel bintang 5 dan bersejarah di Kota Bandung. Desain hotel ini klasik khas paduan arsitektur Pasundan dan Eropa. Ruangannya dingin AC mewah, makanannya juga mahal. Lokasinya bersebrangan dengan Gedung Asia Afrika tempat dahulu Soekarno dan banyak delegasi negara Asia Afrika melakukan pertemuan membicarakan tentang kemerdekaan bangsa-bangsa.
Preanger juga hotel bintang 5 tak jauh dari Savoy Homan. Dalam hotel ini ada satu paviliun yang didesain langsung oleh Soekarno. Hotel ini juga bersejarah. Yang khas dari luar hotel ada patung 3 penari merak yang indah.
Di dekat kedua hotel itulah, tepatnya seorang laki-laki tertidur untuk selamanya. Seorang pengamen di perempatan jalan itu bertutur bahwa bapak itu kelaparan dan akhirnya meninggal. Saat itu melihatnya, jenazah itu berselimut koran. Kaku berebah miring di trotoar yang panas.
Pedih nian hatiku demi melihat peristiwa itu. Tak terbayangkan betapa sunyi hidupnya juga matinya. Sendirian, tak ada keluarga di sampingnya. Entah bagaimana kisah hidupnya. Dia meninggal di sebuah kota yang sedang mendandani diri menjadi kota wisata belanja. Dia kelaparan di sebuah kota yang mempromosikan dirinya menjadi kota kuliner. Dia tertidur di trotoar panas disaksikan gedung-gedung tinggi, orang makan mewah dan canda tawa orang gedongan. Di mataku tidurnya adalah pemberontakan.
Kita sudah 64 tahun merdeka, tapi apakah merdeka itu. Apakah jiwa yang merdeka itu. Sudah merdekakah jiwa kita dari penjajahan apapun. Penjajahan birokrasi, penguasa, harta, dan yang pasti hawa nafsu....
Duh Gusti, jangan Engkau buat bebal diriku...bangsaku...buat kami berbuat oh Tuhan. Jangan..jangan sampai Engkau azab bangsaku...
Allahumma iyya ka na’budu wa iyya kanasta’in...
Allahummahdina shirathal mustaqim...
Jumat, 06 November 2009
Rabu, 21 Oktober 2009
TENTANG HAK SEHAT KITA
Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, DR.PH. Beliau adalah litbang depkes yang ditunjuk SBY sebagai Menkes. Selama masa jabatan Bu Siti Fadhilah Utami banyak inovasi bidang kesehatan seperti peningkatan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak, cuci tangan sebelum makan, pengembangan Puskesmas dll. Meskipun masih banyak kekurangan tetapi boleh dibilang Bu Siti Fadhilah punya kebijakan yang bisa dibaca dan melibatkan daerah dan kelompok masyarakat.
Kisah yang sangat kita ingat adalah vaksin flu burung. Dalam sebuah acara di ITB, beliau memaparkan bagaimana Indonesia dimanfaatkan oleh negara asing (baca: Amerika) dalam bidang pengembangan bisnis obat-obatan. Sampel darah pasien flu burung dikirim di lab Amerika dan mereka mengembangkan vaksin yang kemudian dikirim di Indonesia. Dan Indonesia tak tahu apa hasil laboratorium itu. Hal ini dipandang sebagai kecurangan yang merugikan Indonesia. Karena itu bu Siti Fadhilah Utami menghentikan pengiriman sampel darah itu.
Apakah Dr. Endang akan memiliki kebijakan yang lebih baik dari beliau. Lebih berani dari beliau? Kita semua tak ada yang tahu.
Indonesia saat ini berpenduduk lebih dari 220 juta yang tersebar di seluruh Indonesia. Data world Bank menunjukkan bahwa dari tahun 2007 sebesar 302/100.00 menjadi 420/100.000 kelahiran. Memang dari tahu 2004 AKI Indonesia menurun, tetapi tahun terakhir 2008 meningkat. Hal ini senada dengan profil APBD di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Kota Bandung, Kabupaten Magelang dan Kota Pekalongan. Profil APBD 2002-2007 membaik tetapi tahun 2008 justru buruk. Indikatornya adalah penurunan proporsi belanja program dibandingkan belanja pegawai. Miris memang, apakah ada hubungannya dengan Pemilu?
Siapapun menterinya, semoga memiliki political will untuk mendorong peningkatan derajat kesehatan rakyat Indonesia tidak memandang kaya dan miskin. Jadi, seorang kepala keluarga tak perlu mempertaruhkan harga dirinya dengan mengaku miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup dari negara. Bukankah negara ini dibentuk untuk mensejahterakan rakyat nusantara?
Kisah yang sangat kita ingat adalah vaksin flu burung. Dalam sebuah acara di ITB, beliau memaparkan bagaimana Indonesia dimanfaatkan oleh negara asing (baca: Amerika) dalam bidang pengembangan bisnis obat-obatan. Sampel darah pasien flu burung dikirim di lab Amerika dan mereka mengembangkan vaksin yang kemudian dikirim di Indonesia. Dan Indonesia tak tahu apa hasil laboratorium itu. Hal ini dipandang sebagai kecurangan yang merugikan Indonesia. Karena itu bu Siti Fadhilah Utami menghentikan pengiriman sampel darah itu.
Apakah Dr. Endang akan memiliki kebijakan yang lebih baik dari beliau. Lebih berani dari beliau? Kita semua tak ada yang tahu.
Indonesia saat ini berpenduduk lebih dari 220 juta yang tersebar di seluruh Indonesia. Data world Bank menunjukkan bahwa dari tahun 2007 sebesar 302/100.00 menjadi 420/100.000 kelahiran. Memang dari tahu 2004 AKI Indonesia menurun, tetapi tahun terakhir 2008 meningkat. Hal ini senada dengan profil APBD di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Kota Bandung, Kabupaten Magelang dan Kota Pekalongan. Profil APBD 2002-2007 membaik tetapi tahun 2008 justru buruk. Indikatornya adalah penurunan proporsi belanja program dibandingkan belanja pegawai. Miris memang, apakah ada hubungannya dengan Pemilu?
Siapapun menterinya, semoga memiliki political will untuk mendorong peningkatan derajat kesehatan rakyat Indonesia tidak memandang kaya dan miskin. Jadi, seorang kepala keluarga tak perlu mempertaruhkan harga dirinya dengan mengaku miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup dari negara. Bukankah negara ini dibentuk untuk mensejahterakan rakyat nusantara?
PRICING EVERY PART OF BODY
Setahun ini beberapa kali aku masuk rumah sakit. Aku harus menjalani perawatan intensif terkait dengan kehamilanku. Aku mencoba memanfaatkan layanan Rumah Sakit pemerintah di Jogja. Hampir empat jam aku menunggu sementara aku sudah mengalami perdarahan selama 2 malam. Akhirnya suamiku membawaku ke rumah sakit bersalin swasta mencari dokter spesialis kebidanan.
Tiga klinik swasta kami kunjung dan setiap klinik merekomendasikan untuk bed rest rawat inap. Setelah itu kami disodori daftar harga kamar dan tindakan medis. Akhirnya kami memilih sebuah rumah sakit swasta karena aku lelah pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu, kami memiliki sebuah warung makan. Dengan omset 168.500 per hari. Dalam sebuan ini omset kami naik menjadi 7 juta. Baru saja bisnis kami bangun, kami harus mengeluarkan biaya besar untuk perawatanku. Walaupun akhirnya aku keguguran.
Itu adalah kisahku yang menyedihkan. Karena pada 9 bulan berikutnya aku mengalami kasus yang sama, meskipun secara finansial kami sudah lebih siap.
Sepekan yang lalu aku juga sakit dan memerlukan pemeriksaan laboratorium. Aku menjalani cek darah dan ditemukan bahwa kadar trombositku menurun. Dokter memberiku obat dan menyuruhku tes darah dua hari kemudian. Obatku sangat mahal karena dokter memberiku resep obat paten. Akhirnya aku minta semua obatku diganti obat generik.
Dua pekan berikutnya aku datang kembali ke laboratorium untuk memeriksa kesehatan kandunganku. Kembali aku direkomendasikan dokter sejumlah tes untuk mengetahui kesehatanku. Petugas laboratorium kemudian menghitung biaya yang harus kubayar untuk sejumlah tes yang direkomendasikan dokter.
Aku jadi teringat kesah seorang karyawan pabrik di Amerika. Dia mengalami patah tulang di tiga jarinya. Rumah sakit kemudian menyodorkan sejumlah harga masing-masing jari. Menyambung jari telunjuk lebih mahal dari jari manis. Itu cerita dikisahkan Michael Moore dalam film "The Sicko".
Betapa sedih. Manusia dihargai dengan uang. Bukankah hidup sehat adalah hak asasi manusia? Apakah yang miskin tidak memiliki hak untuk sehat? Indonesia adalah negara yang menghargai cinta antara manusia. Bukankah cerita yang sama dengan cerita dalam film? Saya berharap negara saya tidak mengikuti contoh bagaimana Amerika memperlakukan warganya.
Tiga klinik swasta kami kunjung dan setiap klinik merekomendasikan untuk bed rest rawat inap. Setelah itu kami disodori daftar harga kamar dan tindakan medis. Akhirnya kami memilih sebuah rumah sakit swasta karena aku lelah pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu, kami memiliki sebuah warung makan. Dengan omset 168.500 per hari. Dalam sebuan ini omset kami naik menjadi 7 juta. Baru saja bisnis kami bangun, kami harus mengeluarkan biaya besar untuk perawatanku. Walaupun akhirnya aku keguguran.
Itu adalah kisahku yang menyedihkan. Karena pada 9 bulan berikutnya aku mengalami kasus yang sama, meskipun secara finansial kami sudah lebih siap.
Sepekan yang lalu aku juga sakit dan memerlukan pemeriksaan laboratorium. Aku menjalani cek darah dan ditemukan bahwa kadar trombositku menurun. Dokter memberiku obat dan menyuruhku tes darah dua hari kemudian. Obatku sangat mahal karena dokter memberiku resep obat paten. Akhirnya aku minta semua obatku diganti obat generik.
Dua pekan berikutnya aku datang kembali ke laboratorium untuk memeriksa kesehatan kandunganku. Kembali aku direkomendasikan dokter sejumlah tes untuk mengetahui kesehatanku. Petugas laboratorium kemudian menghitung biaya yang harus kubayar untuk sejumlah tes yang direkomendasikan dokter.
Aku jadi teringat kesah seorang karyawan pabrik di Amerika. Dia mengalami patah tulang di tiga jarinya. Rumah sakit kemudian menyodorkan sejumlah harga masing-masing jari. Menyambung jari telunjuk lebih mahal dari jari manis. Itu cerita dikisahkan Michael Moore dalam film "The Sicko".
Betapa sedih. Manusia dihargai dengan uang. Bukankah hidup sehat adalah hak asasi manusia? Apakah yang miskin tidak memiliki hak untuk sehat? Indonesia adalah negara yang menghargai cinta antara manusia. Bukankah cerita yang sama dengan cerita dalam film? Saya berharap negara saya tidak mengikuti contoh bagaimana Amerika memperlakukan warganya.
Rabu, 09 September 2009
DIALOG SUNYI
Duh Gusti mugi paringa margi kaleresan, dados margine manungsa kang manggih kanikmatan, sanes margine manungsa kang patut panjenengan laknati.
Berhentilah menyesali diri. Karena Allah tak suka dengan manusia yang menyesali takdirnya. Mulailah dengan hidup yang baru. Mulailah beramal, lakukan mulai dari diri sendiri. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang.
Itu ada suara berbisik yang menyeruak dalam ruangan 4x3 itu. Tasbih jangkrik, katak pohon, burung malam berpadu menjadi akapela yang mengajarkan ketaatan, kesabaran, keistiqomahan pada manusia. Saying, kebanyakan manusia terlelap bersama selimut dan bantalnya.
Saat malam hening itulah, terkuak rahasia kekuatan kata-kata. Allah tlah ciptakan lisan untuk menggedor hati manusia, mengikis kesombongan, menghilangkan kesedihan, dan memotivasi yang lemah. Kalau hati terasa keras, nasehat tak berbekas, shalat tak lagi terasa getarannya maka dzikir lisanlah pemecahnya.
Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim,
Pecahlah hati yang keras. Sesungguhnya batu yang keras itu pecah bukan karena pukulan yang kuap saja, tetapi juga seringnya dipukul. Bahkan batu yang keras itu akan lapuk karena tetesan air yang terus menerus. Bukankah batu dan air adalah dua benda yang sifatnya berlawanan? Air yang lembut. Itulah tasbih.
Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah,
Maha Suci Allah, itulah air yang lembut seirama dengan tasbih binatang malam. Duhai jasadku, bangunlah dari tidurmu. Bersahabatlah dengan hawa dingin sepertiga malam terakhir dengan memercikkan air wudhu di mukamu.
Ya ayyuhal muddatsir, qum fa andzir, warabbaka fakabbir, wa tsiyaabaka fakabbir…
Tahajud dik..
Berhentilah menyesali diri. Karena Allah tak suka dengan manusia yang menyesali takdirnya. Mulailah dengan hidup yang baru. Mulailah beramal, lakukan mulai dari diri sendiri. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang.
Itu ada suara berbisik yang menyeruak dalam ruangan 4x3 itu. Tasbih jangkrik, katak pohon, burung malam berpadu menjadi akapela yang mengajarkan ketaatan, kesabaran, keistiqomahan pada manusia. Saying, kebanyakan manusia terlelap bersama selimut dan bantalnya.
Saat malam hening itulah, terkuak rahasia kekuatan kata-kata. Allah tlah ciptakan lisan untuk menggedor hati manusia, mengikis kesombongan, menghilangkan kesedihan, dan memotivasi yang lemah. Kalau hati terasa keras, nasehat tak berbekas, shalat tak lagi terasa getarannya maka dzikir lisanlah pemecahnya.
Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim,
Pecahlah hati yang keras. Sesungguhnya batu yang keras itu pecah bukan karena pukulan yang kuap saja, tetapi juga seringnya dipukul. Bahkan batu yang keras itu akan lapuk karena tetesan air yang terus menerus. Bukankah batu dan air adalah dua benda yang sifatnya berlawanan? Air yang lembut. Itulah tasbih.
Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah,
Maha Suci Allah, itulah air yang lembut seirama dengan tasbih binatang malam. Duhai jasadku, bangunlah dari tidurmu. Bersahabatlah dengan hawa dingin sepertiga malam terakhir dengan memercikkan air wudhu di mukamu.
Ya ayyuhal muddatsir, qum fa andzir, warabbaka fakabbir, wa tsiyaabaka fakabbir…
Tahajud dik..
Minggu, 10 Mei 2009
THEKLEK BERGANDA
Ibarat permainan theklek berganda , saat ini semua partai politik berkencan siang dan malam untuk mencari pasangan. Masing-masing memilih partner yang paling pas untuk memenangkan perlombaan. Ada yang memilih partner berdasarkan kesamaan tinggi badan, umur, uang dan gaya. Usai permainan pertama penentuan seberapa besar sawahnya, kini semua pemain harus berlomba menjadi yang terdepan dengan menaiki theklek double. Wah seru, kan…
Dalam perkencanan itu, seperti halnya permainan anak-anak ada bumbu urik-urikan , kasak kusuk, kabar-kabari, dan iri-irian. Ada yang malu-malu untuk meminta menjadi partner, terutama yang sama kuat. Ini soal harga diri, tetapi keduanya sama-sama tahu bahwa jika mereka bersatu akan menjadi tim terhebat. Ada juga yang sangat percaya diri, siapapun teman belakangnya dia akan menjadi peserta paling mbidip . Ada juga yang sudah mantab memilih menjadi pendamping demi mencapai kemenangan. Ada yang memilih aman demi terjaganya persahabatan dari congkrah theklek berganda. Masalahnya, semua ingin ada di depan. Padahal, kalau teman belakangnya berat atau jalannya gak kompak sekuat apapun mereka tetap berpotensi kalah. Tapi biarlah mengalir, saatnya saling mengunjungi…!!!
Seperti biasa penonton selalu terdiri dari beberapa kategori. Ada supporter, tanpa mereka permainan akan terasa garing tidak bercitarasa. Ada juga komentator, yang dengan cerdas menganalisis setiap perkencanan dan membuat prediksi-prediksi berbagai kemungkinan kombinasi. Ada juga yang hanya menonton, menikmati menghibur diri menyaksikan permainan. Ada juga yang setia berjualan melayani kebutuhan penonton. Mereka gak masalah asal dagangannya laris dan banyak untungnya. Ada juga sponsor yang ingin selalu disebutkan namanya, dilihat logonya dan diingat produknya oleh semua orang. Nah, kita penonton yang mana hayo..
Mengapa sih, banyak yang ingin jadi pemenang lomba theklek ini? Tentu karena pemenang lomba ini akan tinggal di istana selama lima tahun, jalan-jalan kemanapun gratis, masuk TV, naik pesawat gratis, mobil gratis, kursi empuk, dan makan daging dan susu gratis sepanjang tahun. Pemenang lomba ini juga berkuasa untuk membagi kue kecil-kecil. Ada sedikit bagian nanti untuk penonton. Yang pasti, dapatlah mereka status social yang tinggi, harta yang banyak dan jaminan keluarga yang baik.
Theklek berganda ini hanyalah sebuah permainan. Ini bukan tujuan. Semoga meriahnya festival theklek ini tak membuat para pemenangnya lupa bahwa mereka akan mengemban amanah mendistribusikan kue dengan adil, mendamaikan yang congkrah dan menjadi perwakilan Negara untuk bermuamalah dengan Negara lain. Dan semoga lima tahun yang akan dating mereka tidak nggendholi thekleknya tidak boleh ditempati oleh peserta yang lain. Bagaimanapun, pemenangnya harus berganti…terutama yang muda biar larinya tambah kenceng.
Satu lagi pesen Pak Dhe Dayat, bahwa kalau mencari pasangan bertheklek ria harus dalam rangka kebaikan. Koalisi itu kwali isi. Koalisi yang baik adalah kwali yang isinya adalah nilai-nilai kebaikan. Begitu kata pak de Dayat…
Dalam perkencanan itu, seperti halnya permainan anak-anak ada bumbu urik-urikan , kasak kusuk, kabar-kabari, dan iri-irian. Ada yang malu-malu untuk meminta menjadi partner, terutama yang sama kuat. Ini soal harga diri, tetapi keduanya sama-sama tahu bahwa jika mereka bersatu akan menjadi tim terhebat. Ada juga yang sangat percaya diri, siapapun teman belakangnya dia akan menjadi peserta paling mbidip . Ada juga yang sudah mantab memilih menjadi pendamping demi mencapai kemenangan. Ada yang memilih aman demi terjaganya persahabatan dari congkrah theklek berganda. Masalahnya, semua ingin ada di depan. Padahal, kalau teman belakangnya berat atau jalannya gak kompak sekuat apapun mereka tetap berpotensi kalah. Tapi biarlah mengalir, saatnya saling mengunjungi…!!!
Seperti biasa penonton selalu terdiri dari beberapa kategori. Ada supporter, tanpa mereka permainan akan terasa garing tidak bercitarasa. Ada juga komentator, yang dengan cerdas menganalisis setiap perkencanan dan membuat prediksi-prediksi berbagai kemungkinan kombinasi. Ada juga yang hanya menonton, menikmati menghibur diri menyaksikan permainan. Ada juga yang setia berjualan melayani kebutuhan penonton. Mereka gak masalah asal dagangannya laris dan banyak untungnya. Ada juga sponsor yang ingin selalu disebutkan namanya, dilihat logonya dan diingat produknya oleh semua orang. Nah, kita penonton yang mana hayo..
Mengapa sih, banyak yang ingin jadi pemenang lomba theklek ini? Tentu karena pemenang lomba ini akan tinggal di istana selama lima tahun, jalan-jalan kemanapun gratis, masuk TV, naik pesawat gratis, mobil gratis, kursi empuk, dan makan daging dan susu gratis sepanjang tahun. Pemenang lomba ini juga berkuasa untuk membagi kue kecil-kecil. Ada sedikit bagian nanti untuk penonton. Yang pasti, dapatlah mereka status social yang tinggi, harta yang banyak dan jaminan keluarga yang baik.
Theklek berganda ini hanyalah sebuah permainan. Ini bukan tujuan. Semoga meriahnya festival theklek ini tak membuat para pemenangnya lupa bahwa mereka akan mengemban amanah mendistribusikan kue dengan adil, mendamaikan yang congkrah dan menjadi perwakilan Negara untuk bermuamalah dengan Negara lain. Dan semoga lima tahun yang akan dating mereka tidak nggendholi thekleknya tidak boleh ditempati oleh peserta yang lain. Bagaimanapun, pemenangnya harus berganti…terutama yang muda biar larinya tambah kenceng.
Satu lagi pesen Pak Dhe Dayat, bahwa kalau mencari pasangan bertheklek ria harus dalam rangka kebaikan. Koalisi itu kwali isi. Koalisi yang baik adalah kwali yang isinya adalah nilai-nilai kebaikan. Begitu kata pak de Dayat…
Selasa, 14 April 2009
CAPILANO'S Coklat
Bus tuyul biru Kajen-Karangkobar melaju pelan mendaki gunung menyusuri rerimbunan hutan karet. Aku duduk di jok paling belakang bersebelahan dengan seorang ibu pedagang, laki-laki setengah baya dan seorang nenek. Tak ada yang bersuara. Hanya deru mesin yang menyapa pepohonan yang saling berbisik bergesekan dengan sapaan angin pegunungan.
Aku melewati pegunungan Kabupaten Pekalongan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Kunikmati perjalanan dari kota ke kota. Kurasakan bahagia melihat semua orang bekerja. Ada yang bercocok tanam, menadah getah karet, mencari kayu bakar, mencari rumput dan membeli barang dagangan. Kutemukan semangat yang menyala menghias wajah tenang warga desa. Mereka ciptakan surga dalam hatinya.
Tak lupa jua kusapa begitu banyak wajah sengaja bergaya di sepanjang jalan dan menyebutkan nama dan gelarnya lengkap. Terbayang saat ini rakyat berpesta, begitu penting centangan jari yang tak kenal tinta sekalipun. Demi sebuah kursi yang mendatangkan uang bermilyar-milyar. Kadang kutemukan kalimat-kalimat persuasif bahkan bersaut-sautan membanggakan diri atau kelompoknya. Berwarna warni bendera begitu meriah, saatnya setiap kepala memilih siapa yang bisa ditegih janjinya. Semoga selamanya rakyat negeriku dijabat mesra pemimpinnya.
Kulihat seorang ibu yang duduk di kursi depan mengedarkan permen untuk penumpang sebelahnya. Pengembaraanku sejenat terhenti, sebutir CAPILANO'S coklat terulur dari tangan keriput nenek di sebelahku. Diperlezat seulas senyum tulus kunikmati permen kenangan di bus tuyul Kajen-Karangkobar. Permen persaudaraan.
Dan aku kembali memandangi hijaunya vegetasi lereng pegunungan, sambil kunikmati deg-deganku hendak bertemu kekasihku yang sudah menungguku di Karangkobar sejak jam 9 tadi.
Aku melewati pegunungan Kabupaten Pekalongan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Kunikmati perjalanan dari kota ke kota. Kurasakan bahagia melihat semua orang bekerja. Ada yang bercocok tanam, menadah getah karet, mencari kayu bakar, mencari rumput dan membeli barang dagangan. Kutemukan semangat yang menyala menghias wajah tenang warga desa. Mereka ciptakan surga dalam hatinya.
Tak lupa jua kusapa begitu banyak wajah sengaja bergaya di sepanjang jalan dan menyebutkan nama dan gelarnya lengkap. Terbayang saat ini rakyat berpesta, begitu penting centangan jari yang tak kenal tinta sekalipun. Demi sebuah kursi yang mendatangkan uang bermilyar-milyar. Kadang kutemukan kalimat-kalimat persuasif bahkan bersaut-sautan membanggakan diri atau kelompoknya. Berwarna warni bendera begitu meriah, saatnya setiap kepala memilih siapa yang bisa ditegih janjinya. Semoga selamanya rakyat negeriku dijabat mesra pemimpinnya.
Kulihat seorang ibu yang duduk di kursi depan mengedarkan permen untuk penumpang sebelahnya. Pengembaraanku sejenat terhenti, sebutir CAPILANO'S coklat terulur dari tangan keriput nenek di sebelahku. Diperlezat seulas senyum tulus kunikmati permen kenangan di bus tuyul Kajen-Karangkobar. Permen persaudaraan.
Dan aku kembali memandangi hijaunya vegetasi lereng pegunungan, sambil kunikmati deg-deganku hendak bertemu kekasihku yang sudah menungguku di Karangkobar sejak jam 9 tadi.
BELUM MAHASISWA ITB
Ospek atau orientasi pengenalan kampus merupakan tradisi dalam dunia kampus di Indonesia dengan berbagai dinamikanya. Tujuan awal ospek di ITB adalah memperkenalkan kehidupan kampus sebagaimana yang terjadi di semua kampus umumnya. Pada perkembangannya, ospek menjadi ajang pengkaderan gerakan mahasiswa. Ketika Indonesia dalam kondisi sosial politik tertekan rezim kedikatoran, ospek menjadi ajang untuk membangun gerakan perlawanan mahasiswa. Sampai era reformasi ospek ITB tetap menjadi sarana pengkaderan yang 'seksi' bagi gerakan sosial manapun.
Dinamika Ospek
Ospek di ITB terdiri dari ospek terpusat (Keluarga Mahasiswa) dan aspek jurusan. Ospek terpusat biasanya hanya satu pekan di awal tahun. Acara ini merupakan pengenalan kehidupan kampus. Ospek ITB adalah hajatan besar mahasiswa yang melibatkan ratusan mahasiswa dalam kepanitiaan. Materi ospek terpusat dibuat serius oleh tim khusus yang akan menjadi acara ospek. Materi ospek biasanya merupakan respon terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia. Materi ini kemudian diterjemahkan detil dengan berbagai metode seperti stadium general, diskusi kelompok, permainan, bakti sosial dan performance art. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini rawan dengan bumbu kekerasan dengan dalih kedisiplinan. (selama lima tahun saya aktif di Keluarga Mahasiswa ITB, acara ini selalu memperhatikan aspek kesehatan mahasiswa)
Ospek merupakan acara kampus yang memiliki nilai strategis bagi entitas manapun yang ingin hidup di kampus. Acara ini merupakan ajang rekrutmen paling efektif bagi organisasi manapun termasuk gerakan ideologi apapun. Organisasi intra kampus maupun ekstra kampus menggunakan acara ini sebagai sarana open house bagi mahasiswa baru. Ospek terpusat juga menjadi sarana untuk menanamkan visi, pemikiran, dan tradisi kampus. Dalam kehidupan gerakan mahasiswa ITB, acara ospek ini disebut sebagai kaderisasi. Ospek juga memiliki nilai sosial yang tinggi karena hanya pada event tersebut menjadi ajang pertemuan mahasiswa lintas jurusan, lintas etnis dan lintas kelompok sosial. Karena sisi strategis ini kemudian ketika rektorat mengeluarkan pelarangan ospek sejak tahun 2000 ditentang keras oleh aktivis kegiatan mahasiswa.
Sisi menarik ospek terpusat adalah bahwa acara ini merupakan sambutan khusus dari Pemerintahan Mahasiswa kepada warga baru. Dokumentasi ospek dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa sambutan ini dilakukan sangat meriah bahkan memiliki nilai artistik tinggi bukti kreatifitas mahasiwa. Berbagai performance art dan keunikan berbagai komunitas mahasiswa yang terdiri dari 64 unit olah laga dan kebudayaan Indonesia serta berbagai jurusan dengan karyanya.
Selain ospek terpusat, ada ospek jurusan yaitu tahapan yang harus dilewati mahasiswa jika ingin menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan. Jargon yang sering disampaikan adalah belum mahasiswa ITB jika belum ikut osjur. Ospek jurusan biasanya bertujuan untuk menanamkan kebersamaan. Masalah terjadi dalam penggunaan metode yang kadang kurang memperhatikan nilai kewajaran. Ospek jurusan dianggap sebagai tradisi yang harus dilestarikan. Acara ini merupakan sarana untuk mentransfer nilai-nilai yang tidak terdefinisi dengan jelas.
Ospek jurusan dilaksanakan sepekan sekali dalam satu tahun pertama kuliah. Materinya sebenarnya cukup positif bahkan beberapa jurusan memasukkan berbagai tutorial kuliah dan kegiatan sosial di dalamnya. Jadi, tindakan kekerasan sangat bisa dihapus jika panitia kegiatan tersebut mau. Beberapa jurusan sudah melakukannya dan bisa.
Perlawanan terhadap Kekerasan Ospek
Perlawanan terhadap kekerasan dalam ospek jurusan (osjur) bukan tidak pernah terjadi. Ada yang mencoba merubah dari dalam dengan menjadi panitia, tetapi sering kali kalah jika tak memiliki pengaruh yang kuat. Selain jurusan Geodesi ada puluhan jurusan di ITB yang berhasil merubah tradisi ospek menjadi tradisi yang positif. Mereka berjuang mempersingkat osjur dan mengubah tradisi kekerasan menjadi tradisi akademik.
Ada juga kelompok mahasiswa yang akhirnya melawan dengan tidak mengikuti acara atau disebut non him. Namun kelompok ini terancam diskriminasi dalam kegiatan kuliah misal dari asisten praktikum, atau dalam tugas-ugas kolektif. Lebih jauh lagi, ospek menjadi politik identitas mahasiswa yang memiliki konsekuensi sosial. Hal inilah yang sering ditakutkan mahasiswa, sehingga memilih untuk bersabar melewati setahun osjur.
Potret di balik Ospek
Kasus meninggalnya mahasiswa ITBdalam kegiatan osjur merupakan potret yang mesti menjadi perhatian siapa saja yang peduli dengan bangsa Indonesia. Musibah itu terjadi di sebuah kampus terbaik di Indonesia. Mereka adalah generasi yang akan mengisi pos-pos kepemimpinan 15 tahun yang akan datang. Apa jadinya bangsa kita jika kehidupan sosial semasa belajarnya dalam tradisi kekerasan. Kekerasan yang ditradisikan tersebut sudah pasti akan terbawa dalam kehidupan mereka selanjutnya.
Kasus ini juga merupakan indikasi menurunnya tradisi intelektual di kalangan mahasiswa. Tindakan kekerasan merupakan tindakan yang jauh dari tradisi kaum intelektual yang lebih mengutamakan diskusi-diskusi pemikiran untuk merubah perilaku. Hal ini juga didukung fakta bahwa di ITB semua gerakan ideologi seperti KAMMI, HMI, PMII, GMNI dan sebagainya tidak diakui dalam konsepsi kemahasiswaan ITB. Akhirnya yang berkembang adalah fanatisme kelompok, baik kelompok jurusan, agama, suku, bahkan fanatisme kampus sendiri yang bisa jadi kurang disadari oleh dosen ITB. Hal ini juga mungkin dialami dalam kehidupan alumni ITB. Ada kebanggan komunitas ITB, persis seperti yang ditanamkan dalam ospek.
Memberantas Kekerasan dengan Kekerasan
Mengingat ospek dan kaitannya dengan aspek sosiologis, kehidupan gerakan mahasiswa, dan gerakan sosial ideologi yang ada di ITB maka penyelesaian yang diambil harus sesuai dengan sifat tersebut. Metode yang dilakukan rektorat ITB selama ini dinilai mahasiswa akan membunuh gerakan mahasiswa. Menghentikan rekrutmen adalah cara efektif untuk memotong generasi mahasiswa ITB yang di kepalanya pernah mengalami ospek. Namun tak disadari bahwa itu bentuk kekerasan baru dalam gerakan mahasiswa. Apa jadinya jika menghilangkan kekerasan dengan kekerasan?
Kekerasan yang dilakukan oleh rektorat bukan hanya dilakukan dengan mendatangkan brimob untuk menghentikan ospek, tetapi juga menggunakan otoritas sebagai rektorat. Seorang aktivis mahasiswa Teknik Sipil 1999 yang juga ketua panitia ospek tidak dijinkan ikut wisuda. Atau ancaman drop out bagi mahasiswa yang menjadi ketua panitia ospek atau ketua himpunan. Mahasiswa bukanlah anak kecil yang begitu saja menurut dengan kebijakan tersebut. Mahasiswa adalah kelompok sosial yang memiliki tanggung jawab sosial menyelesaikan masalah sosialnya sendiri. Kelompok aktivis ini menganggap bahwa tradisi kekerasan ini harus dihilangkan, tetapi jangan sampai kegiatan kaderisasi kampus dihilangkan.
Rektorat juga berusaha untuk menghilangkan ospek dengan tidak memberikan izin dan menggantinya dengan kegiatan yang dibuat oleh rektorat. Kebijakan ini juga ditentang keras mahasiswa karena menghilangkan sebuah ajang aktualisasi gerakan mahasiswa. Ini dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan rektorat terhadap gerakan mahasiswa. Akhirnya pola relasi antara gerakan mahasiswa dan rektorat seperti dua pemerintahan yang tentu tidak imbang. Mahasiswa sebagai sebuah pemerintahan telah diserang eksistensinya oleh pihak yang memiliki otoritas yang mengancam. Bukankah kampus adalah sebuah institusi pendidikan? Bukankah semestinya rektorat yang notabenenya adalah dosen tetap menjadi 'pendidik' mahasiswa?
Organisasi mahasiswa adalah sebuah pemerintahan mahasiswa (student government) yang otonom. Di ITB tidak mengenal senat mahasiswa. Mahasiswa memiliki presiden yang dipilih melalui pemilu langsung. Setiap jurusan memiliki wakil senator yang duduk di badan legislatif. Presiden dibantu menteri-menteri berbagai bidang sesuai kebutuhan. Ada ketua himpunan yang memimpin warga jurusan masing-masing. Artinya secara sosiologis, organisasi mahasiswa sudah lengkap sebagai sebuah masyarakat lengkap dengan berbagai aturan sosial baik yang formal maupun yang informal. Bentuk ini sangat efektif menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa untuk kehidupan pasca kampus. Otonomi gerakan mahasiswa ini penting untuk dijaga sehingga pendekatan-pendekatan yang dilakukan juga mesti memperhatikan aspek psikologis dan politis. Bagaimanapun kampus-kampus berpotensi besar mencetak pemimpin bangsa ke depan.
Namun demikian, organisasi mahasiswa di kampus manapun harus berani melakukan otokritik terhadap tradisi ospek ini. Mahasiswa harus bisa membuktikan kedewasaannya dengan tanggung jawab yang besar terhadap apa yang dilakukannya. Mahasiswa harus kembali mengedepankan tradisi intelektual ketimbang tradisi kekerasan yang tak disadari berpengaruh buruk bahkan menyebabkan kematian bagi mahasiswa lain. Gerakan mahasiswa harus berani 'open mind' melihat mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan mahasiswa harus kembali memikirkan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang membutuhkan banyak sarjana kontributif. Bukankah teknologi berkembang merupakan jawaban persoalan yang dihadapi masyarakat?
Dinamika Ospek
Ospek di ITB terdiri dari ospek terpusat (Keluarga Mahasiswa) dan aspek jurusan. Ospek terpusat biasanya hanya satu pekan di awal tahun. Acara ini merupakan pengenalan kehidupan kampus. Ospek ITB adalah hajatan besar mahasiswa yang melibatkan ratusan mahasiswa dalam kepanitiaan. Materi ospek terpusat dibuat serius oleh tim khusus yang akan menjadi acara ospek. Materi ospek biasanya merupakan respon terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia. Materi ini kemudian diterjemahkan detil dengan berbagai metode seperti stadium general, diskusi kelompok, permainan, bakti sosial dan performance art. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini rawan dengan bumbu kekerasan dengan dalih kedisiplinan. (selama lima tahun saya aktif di Keluarga Mahasiswa ITB, acara ini selalu memperhatikan aspek kesehatan mahasiswa)
Ospek merupakan acara kampus yang memiliki nilai strategis bagi entitas manapun yang ingin hidup di kampus. Acara ini merupakan ajang rekrutmen paling efektif bagi organisasi manapun termasuk gerakan ideologi apapun. Organisasi intra kampus maupun ekstra kampus menggunakan acara ini sebagai sarana open house bagi mahasiswa baru. Ospek terpusat juga menjadi sarana untuk menanamkan visi, pemikiran, dan tradisi kampus. Dalam kehidupan gerakan mahasiswa ITB, acara ospek ini disebut sebagai kaderisasi. Ospek juga memiliki nilai sosial yang tinggi karena hanya pada event tersebut menjadi ajang pertemuan mahasiswa lintas jurusan, lintas etnis dan lintas kelompok sosial. Karena sisi strategis ini kemudian ketika rektorat mengeluarkan pelarangan ospek sejak tahun 2000 ditentang keras oleh aktivis kegiatan mahasiswa.
Sisi menarik ospek terpusat adalah bahwa acara ini merupakan sambutan khusus dari Pemerintahan Mahasiswa kepada warga baru. Dokumentasi ospek dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa sambutan ini dilakukan sangat meriah bahkan memiliki nilai artistik tinggi bukti kreatifitas mahasiwa. Berbagai performance art dan keunikan berbagai komunitas mahasiswa yang terdiri dari 64 unit olah laga dan kebudayaan Indonesia serta berbagai jurusan dengan karyanya.
Selain ospek terpusat, ada ospek jurusan yaitu tahapan yang harus dilewati mahasiswa jika ingin menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan. Jargon yang sering disampaikan adalah belum mahasiswa ITB jika belum ikut osjur. Ospek jurusan biasanya bertujuan untuk menanamkan kebersamaan. Masalah terjadi dalam penggunaan metode yang kadang kurang memperhatikan nilai kewajaran. Ospek jurusan dianggap sebagai tradisi yang harus dilestarikan. Acara ini merupakan sarana untuk mentransfer nilai-nilai yang tidak terdefinisi dengan jelas.
Ospek jurusan dilaksanakan sepekan sekali dalam satu tahun pertama kuliah. Materinya sebenarnya cukup positif bahkan beberapa jurusan memasukkan berbagai tutorial kuliah dan kegiatan sosial di dalamnya. Jadi, tindakan kekerasan sangat bisa dihapus jika panitia kegiatan tersebut mau. Beberapa jurusan sudah melakukannya dan bisa.
Perlawanan terhadap Kekerasan Ospek
Perlawanan terhadap kekerasan dalam ospek jurusan (osjur) bukan tidak pernah terjadi. Ada yang mencoba merubah dari dalam dengan menjadi panitia, tetapi sering kali kalah jika tak memiliki pengaruh yang kuat. Selain jurusan Geodesi ada puluhan jurusan di ITB yang berhasil merubah tradisi ospek menjadi tradisi yang positif. Mereka berjuang mempersingkat osjur dan mengubah tradisi kekerasan menjadi tradisi akademik.
Ada juga kelompok mahasiswa yang akhirnya melawan dengan tidak mengikuti acara atau disebut non him. Namun kelompok ini terancam diskriminasi dalam kegiatan kuliah misal dari asisten praktikum, atau dalam tugas-ugas kolektif. Lebih jauh lagi, ospek menjadi politik identitas mahasiswa yang memiliki konsekuensi sosial. Hal inilah yang sering ditakutkan mahasiswa, sehingga memilih untuk bersabar melewati setahun osjur.
Potret di balik Ospek
Kasus meninggalnya mahasiswa ITBdalam kegiatan osjur merupakan potret yang mesti menjadi perhatian siapa saja yang peduli dengan bangsa Indonesia. Musibah itu terjadi di sebuah kampus terbaik di Indonesia. Mereka adalah generasi yang akan mengisi pos-pos kepemimpinan 15 tahun yang akan datang. Apa jadinya bangsa kita jika kehidupan sosial semasa belajarnya dalam tradisi kekerasan. Kekerasan yang ditradisikan tersebut sudah pasti akan terbawa dalam kehidupan mereka selanjutnya.
Kasus ini juga merupakan indikasi menurunnya tradisi intelektual di kalangan mahasiswa. Tindakan kekerasan merupakan tindakan yang jauh dari tradisi kaum intelektual yang lebih mengutamakan diskusi-diskusi pemikiran untuk merubah perilaku. Hal ini juga didukung fakta bahwa di ITB semua gerakan ideologi seperti KAMMI, HMI, PMII, GMNI dan sebagainya tidak diakui dalam konsepsi kemahasiswaan ITB. Akhirnya yang berkembang adalah fanatisme kelompok, baik kelompok jurusan, agama, suku, bahkan fanatisme kampus sendiri yang bisa jadi kurang disadari oleh dosen ITB. Hal ini juga mungkin dialami dalam kehidupan alumni ITB. Ada kebanggan komunitas ITB, persis seperti yang ditanamkan dalam ospek.
Memberantas Kekerasan dengan Kekerasan
Mengingat ospek dan kaitannya dengan aspek sosiologis, kehidupan gerakan mahasiswa, dan gerakan sosial ideologi yang ada di ITB maka penyelesaian yang diambil harus sesuai dengan sifat tersebut. Metode yang dilakukan rektorat ITB selama ini dinilai mahasiswa akan membunuh gerakan mahasiswa. Menghentikan rekrutmen adalah cara efektif untuk memotong generasi mahasiswa ITB yang di kepalanya pernah mengalami ospek. Namun tak disadari bahwa itu bentuk kekerasan baru dalam gerakan mahasiswa. Apa jadinya jika menghilangkan kekerasan dengan kekerasan?
Kekerasan yang dilakukan oleh rektorat bukan hanya dilakukan dengan mendatangkan brimob untuk menghentikan ospek, tetapi juga menggunakan otoritas sebagai rektorat. Seorang aktivis mahasiswa Teknik Sipil 1999 yang juga ketua panitia ospek tidak dijinkan ikut wisuda. Atau ancaman drop out bagi mahasiswa yang menjadi ketua panitia ospek atau ketua himpunan. Mahasiswa bukanlah anak kecil yang begitu saja menurut dengan kebijakan tersebut. Mahasiswa adalah kelompok sosial yang memiliki tanggung jawab sosial menyelesaikan masalah sosialnya sendiri. Kelompok aktivis ini menganggap bahwa tradisi kekerasan ini harus dihilangkan, tetapi jangan sampai kegiatan kaderisasi kampus dihilangkan.
Rektorat juga berusaha untuk menghilangkan ospek dengan tidak memberikan izin dan menggantinya dengan kegiatan yang dibuat oleh rektorat. Kebijakan ini juga ditentang keras mahasiswa karena menghilangkan sebuah ajang aktualisasi gerakan mahasiswa. Ini dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan rektorat terhadap gerakan mahasiswa. Akhirnya pola relasi antara gerakan mahasiswa dan rektorat seperti dua pemerintahan yang tentu tidak imbang. Mahasiswa sebagai sebuah pemerintahan telah diserang eksistensinya oleh pihak yang memiliki otoritas yang mengancam. Bukankah kampus adalah sebuah institusi pendidikan? Bukankah semestinya rektorat yang notabenenya adalah dosen tetap menjadi 'pendidik' mahasiswa?
Organisasi mahasiswa adalah sebuah pemerintahan mahasiswa (student government) yang otonom. Di ITB tidak mengenal senat mahasiswa. Mahasiswa memiliki presiden yang dipilih melalui pemilu langsung. Setiap jurusan memiliki wakil senator yang duduk di badan legislatif. Presiden dibantu menteri-menteri berbagai bidang sesuai kebutuhan. Ada ketua himpunan yang memimpin warga jurusan masing-masing. Artinya secara sosiologis, organisasi mahasiswa sudah lengkap sebagai sebuah masyarakat lengkap dengan berbagai aturan sosial baik yang formal maupun yang informal. Bentuk ini sangat efektif menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa untuk kehidupan pasca kampus. Otonomi gerakan mahasiswa ini penting untuk dijaga sehingga pendekatan-pendekatan yang dilakukan juga mesti memperhatikan aspek psikologis dan politis. Bagaimanapun kampus-kampus berpotensi besar mencetak pemimpin bangsa ke depan.
Namun demikian, organisasi mahasiswa di kampus manapun harus berani melakukan otokritik terhadap tradisi ospek ini. Mahasiswa harus bisa membuktikan kedewasaannya dengan tanggung jawab yang besar terhadap apa yang dilakukannya. Mahasiswa harus kembali mengedepankan tradisi intelektual ketimbang tradisi kekerasan yang tak disadari berpengaruh buruk bahkan menyebabkan kematian bagi mahasiswa lain. Gerakan mahasiswa harus berani 'open mind' melihat mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan mahasiswa harus kembali memikirkan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang membutuhkan banyak sarjana kontributif. Bukankah teknologi berkembang merupakan jawaban persoalan yang dihadapi masyarakat?
Rabu, 25 Maret 2009
KEPADA NENG SHINTA
Mengapa kutulis untukmu, karena aku pernah berjanji menulis surat untukmu. Aku mencoba menuliskan kenangan ukhuwah di ITB tetapi, terlalu banyak sehingga aku bingung menulis yang mana. Aku menemukan hidayah di ITB, tetapi aku juga rasakan terjatuh dalam jurang yang dalam jua disana. Kurasakan pelajaran bagaimana menyuarakan kebenaran di depan pemimpin yang dhalim juga disana. Tetapi, kutemukan pemimpin yang bebal dan penuh pura-pura juga di sana.
Banyak tempat yang kusuka di sana. Di Pusda'i kutemukan kenikmatan tahajud dan air mata dalam lantunan surah Ar Rahman. Di Habiburrahman kuluapkan sesalku dalam lantunan Qur'an bersama ustadz Abdur Rahman Abdur Rauf. Di Darut Tauhid kuhabiskan ahadku untuk menamatkan satu juz tilawah qur'an. Di Mesjid Salman kumanfaatkan untuk penyegar ruhiyahku dengan shalat jamaah maghrib dan bertemu sahabat di sela-sela kesibukan. Kutemukan komunitas dakwah yang mirip Ikhwanul Muslimin juga di sana. Mengenang Bandung aku kuberdoa semoga Allah rawat hidayah ini dan Allah bersihkan diri ini dari dosa-dosa ya Ghaffar.
Sahabat, di kota itu pula kutemukan kekejaman dan kebobrokan. Kesenangan dunia digelar dalam geriap Mall dan Plaza. Orang tua bangga dengan anaknya yang bermalam minggu memakai jeans ketat dan kaos warna warni sepeti etalase Factory Outlet. Konser musik dimana-mana. Bandung adalah surga bagi siapapun yang ingin menikmati dunia. Hidup di kota gegap gempita membuatku kembali menjadi orang desa. Kubiarkan jari-jariku meloncat-loncat di atas key board, izinkan aku menceritakan petualanganku selama merefleksikan kegundahanku selama di Bandung.
Sejak bertemu Mas Amin (suami) banyak pengalaman baru dan banyak pengetahuan baru. Suamiku bernama Amin Sudarsono. Lulusan Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Suamiku anak lurah Panunggalan, Pulokulon, Grobogan. Dia alumni pondok Al Munawir Semarang. Selama di Jogja juga menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren. Dia pernah mengembara mengikuti murabinya ke Pulau Bacan Halmahera Selatan. Dia juga wartawan terbaik Banjarmasin post yang juga humas DPW PKS Kalsel. Selama di Kalsel dia mengelola dakwah sekolah dan dakwah kampus. Lingkungan social Jogja membuatnya tumbuh menjadi seorang intelektual muda, begitulah yang kutangkap dari tulisan-tulisannya yang menggambarkan betapa banyak buku yang sudah dilahapnya.
Di Bandung Mas Amin memperkenalkanku jihad intelektual Kang Jalaludin Rahmat di Kiaracondong. Tempat yang selama ini hampir tak ingin kukunjungi. Delapan tahun, mengapa aku tak pernah kesana mereguk samudera ilmu dari seorang intelektual muslim yang bukunya sangat favorit kubaca ' Rekayasa Sosial'. Aku juga tak sempat mencari majelis ta'lim Syarikat Islam yang tokohnya juga banyak di Bandung. Aku juga tak pernah hadir di pesantren NU, jam'iyah keluarga besarku yang selama ini mengajarkanku shalat dan tilawah qur'an. Aku juga tak sempat menikmati semangat dakwah Persis sebagai organisasi Islam terbesar di Jawa Barat. Aku juga tak terfikir belajar dari bagaimana jam'iyah Muhamadiyah membangun infrastruktur sosial. Selama ini, aku hanya bertemu tarbiyah. Aku terbiasa dilindungi dari berbagai aliran yang 'mungkin' sesat. Bahkan aku menjadi paranoid dengan jam'iyah lain. Astaghfirullah. Sungguh aku telah melewatkan hidupku di Bandung dari menuntut ilmu.
Di Jogja aku mengenal Kyai Mahlil yang pesantrennya mencetak banyak penulis dan sastrawan. Kisah hidup beliau yang mengajarkan kaidah menuntut ilmu yang sama seperti dalam Kitab Ta'lim Muta'allim. Mahlil remaja membakar ijazahnya. Beliau lepaskan kesempatan kuliah di Al Azhar demi taat pada ayahnya menuntut ilmu di sebuah pesantren kecil di Kajoran Magelang. Saat ini beliau mengasuh sebuah majalah pesantren namanya Fadhilah. Majalah ini salah satu dari modernisasi di pesantren NU. Saat ini Kyai Mahlil masih Ketua DPW PKB DIY. Ada keindahan yang memiliki daya tarik besar dalam jiwaku.
Aku mengenal jam'iyah ma'iyah Emha Ainun Najib yang rumahnya tak jauh dari warungku. Malam itu Jogja diguyur hujan, tapi jama'ah masih duduk lesehan beralas 'bagor' basah kuyub. Lantunan shalawat dengan aransemen gamelan Kyai Kanjeng diramu dengan essay Negeri U- RI-k u-RI-kan nya Kyai Mahlil tambah taushiyah Kyai Hafidz pengasuh pesantren Krapyak serta uraian panjang Pak Budi membuat malam itu menyenangkan. Ma'iyahan malam itu juga di meriahkan lagu 'Tak Gendong” dan Alif fathah a nya Mbah Surip dan keheranan Dr. Suzan dari Jerman rasanya tak terasa air hujan yang membasahi badanku, akupun mencoba tetap tinggal di pelataran merasakan militansi jama'ah maiyahan Cak Nun yang notabenenya adalah anak muda terpelajar. Aku sekarang mengerti mengapa dari halaqah Cak Nun ini bisa menggulingkan Suharto 98. Sebuah gerakan pembebasan, bukankah Islam adalah gerakan pembebasab manusia dari jajahan berbagai Illah selain Allah? Aku ingat Mas Amin menunjukkanku buku kumpulan puisi Lautan Jilbab yang menjadi awal perjuangan melawan pelarangan jilbab. Dahsyat nian gerakan budaya ini. Sebuah padepokan kecil di kampung bisa menggulirkan perubahan besar.
Aku dikenalkan Mas Amin ke Gus Nuri, pengasuh pesantren yang juga komandan Laskar Jihad di Jalan Kaliurang Yogyakarta. Kami ditemui di sebuah ruangan luas seperti aula. Ada pengimaman, berarti ini mesjid. Ada sebuah ruangan buatan dengan tabir kain putih di sudut kiri depan dekat pengimaman. Itu pasti ruangan i'tikaf Gus Nuri. Mesjid ini satu bangunan dengan rumah Gus Nuri di bagian belakang. Bagian dalam rumah tempat tinggal santri putri dan lantai 2 untuk santri putra. Santri putra banyak yang tidur nyenyak di dalam gulungan tikar di shaf belakang mesjid. Mesjid ini memang belum jadi, tetapi sudah aktif dipakai. Mimbarnya terbuat dari tumpukan 3 kotak botol Coca-Cola yang ditutup kain putih.
Kami disambut ummi (istri Gus Nuri) seorang muslimah dengan penampilan sederhana. Dari raut mukanya ramah, tetapi tak banyak berkata-kata. Gus Nuri memakai jubah dan sorban. Beliau senang sekali melihat kedatangan kami. Kami datang dengan seorang kawan Mas Amin memulai pembicaraan dengan memperkenalkan istrinya dan bercerita sekalimat tentang pencalegan kawan kami.
Baru sekalimat, tetapi Gus Nuri seakan-akan tahu apa yang kami fikirkan. Gus Nuri membahas tentang amanah. Kesepetlah aku tentang penceleganku yang kutinggal. Lalu dibahas pula tentang perkembangan dakwah PKS. Konsekuensi musyarakah dan distorsi perjuangan dalam manuver politik elit, tentang cita-cita Anis Matta, tentang diamnya Dr. Dayat (HNW) dan gejolak kader inti PKS yang sebagian memilih tidak ikut-ikutan dalam geriap yang bertaburan ghanimah ini. Semua mengalir, pertanyaan yang kami diskusikan di mobil tadi terjawab sudah.
Teringat aku dengan murabbiku seorang guru sederhana yang memaknai hidupnya dengan jihad. Semangat membara kader sadang Serang yang digerakkan ibu-ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Sungguh terharu melihat perjuangan kader PKS. Tapi satu, Gus Nuri mengingatkan kami untuk selalu berpegang teguh pada Qur'an dan Sunnah. Memang, ada yang lebih penting dari kegundahanku yaitu mempelajari, mengamalkan dan menyebarkan Qur'an dan Sunnah. Pertemuan kami berakhir jam 23.00 karena jama’ah Laskar Jihad sudah hadir untuk pengajian.
Neng Shinta, sekarang di ruang tamu sedang ada diskusi menarik. Tukang pijet tulang yang juga guru ngaji, sepupuku alumni Pesantren Lirboyo, dan Bapakku petani yang sempat juga nyantri di Tuban. Tentang Pemilu, banyak orang yang menganggap memenangkan partainya adalah bagian dari jihad. Bahwa belum tentu itu jihad. Dan salah jika ada caleg yang mengkampanyekan dirinya. Itu sudah ujub. Itu sudah memburu kekuasaan namanya. Ah, benar juga. Kurasakan juga godaan untuk memenangkan diriku, tapi akhirnya kupilih keluar dari gelombang. Shin, kurasakan sudah godaan harta, kekuasaan dan syahwat. Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah itu hingga ajal. Kata Pak Mat (guru ngaji) bahwa ilmu itu penting untuk menjadi landasan amal. Saat ini banyak partai Islam yang tidak memakai ilmu dalam geraknya. Ah, cerdas nian tukang pijat ini. Kesederhanaannya semakin membuatku takjub dengan kehidupannya.
Neng Shinta, disini aku mengenal Bu Nyai Shinto Nabillah sesepuh NU di Magelang guru ngaji ibuku. Beliau pengasuh Pondok Pesantren putrid Al Hidayat. Ahad lalu ada Khataman pondok yang salah satu kelompok pesertanya adalah ibu-ibu seusia ibuku. Mereka khataman Fiqih Shalat. Ada juga yang khataman Juz Amma, dan Qur'an. Dan tahun ini ada 6 hafidzah qur'an yang diwisuda. Subhanallah, tak tertahan air mataku mendengar lantunan qur'an mbak Wafiq Azizah (juara internasional qiroatil qur'an) yang membaca ayat barang siapa yang beriman dan istiqomah maka, wa la takhafu wa la takhzani waabshiru bil jannatilladzi kuntum ta'malun.....oh Allah, sinarilah hatiku dengan cahaya Al Qur'an.
Subhanallah, semangat thalabul ilmi kaum NU yang luar biasa. Nenek-nenek, orang-orang kampung yang kostumnya masih memakan kebaya dan kain sinjang. Meskipun harus menempuh jarak yang jauh mereka tetap datang untuk belajar Islam. Bu Nyai Shinto mengajarkan mulai dari fiqih thaharah hingga tafsir qur'an. Sabar sekali, tanpa terburu-buru. Tak ada kader karbitan. Kalau belum khatam fiqih ibadah belum masuk qur'an.
Aku teringat dengan kita yang ngaji dengan Rasmul Bayan dan malas kali aku membaca referensi asli buku-buku para Ulama Islam. Akhirnya, hasil dari tarbiyah Rasmul bayan ya seperti aku. Kader karbitan, tak bisa bahasa Arab tetapi mengajar Al Qur’an bahkan sudah baca Riyadu Shalihin, sedikit Fi Dzilalil Qur’an, Sirah Nabawiyah dan sedikit petikan Ihya Ulumudinnya Imam Al Gazali. Mm, yang penting terus bersemangat belajar Islam dan belajar untuk mengikuti jalan dakwah Rasulullah SAW. Iya kan…
Neng Shinta, aku tersadar bahwa aku selama ini bagai katak dalam tempurung tentu saja karena kurang ilmu. Mengapa orang tarbiyah tidak suka dengan tahlil? Karena bid'ah. Apa dasarnya. Alasannya ada tawasul ke syeikh Abdul Qadir Jailani. Tahukah mereka siapa Syeikh Abdul qadir Jailani? Aku baca buku Fathul Ghaib karangan Syeikh Abdul Qadis Jailani yang isinya penuh dengan samudera hikmah. Kutemukan kalimat-kalimat yang mengajarkan bagaimana menjadi hamba yang dicintai Allah. Bacaan tahlil juga sama dengan al Ma'tsurat. Orang membaca tahlil juga bukan meminta pada yang mati tetapi mendoakan yang mati dan juga untuk yang hidup. Aku banyak belajar bagaimana model dakwah NU bisa mencerdaskan masyarakat samapai akar rumput.
Neng Shinta, semangatku menyala-nyala setiap kali kulihat rombongan santri menenteng kitab kuningnya. Hatiku berbinar-binar melihat anak-anak sekolah madrasah yang bersepeda berombongan memenuhi jalan. Dakwah walisongo begitu luar biasa. Aku yakin geriap dakwah ini tak hanya di Jawa tapi di pelosok nusantara. Sahabat, aku ingin mengajakmu kembali mereguk samudera ilmu. Tak ada kata untuk terlambat. Titip rinduku untuk saudari-saudariku disana.
Banyak tempat yang kusuka di sana. Di Pusda'i kutemukan kenikmatan tahajud dan air mata dalam lantunan surah Ar Rahman. Di Habiburrahman kuluapkan sesalku dalam lantunan Qur'an bersama ustadz Abdur Rahman Abdur Rauf. Di Darut Tauhid kuhabiskan ahadku untuk menamatkan satu juz tilawah qur'an. Di Mesjid Salman kumanfaatkan untuk penyegar ruhiyahku dengan shalat jamaah maghrib dan bertemu sahabat di sela-sela kesibukan. Kutemukan komunitas dakwah yang mirip Ikhwanul Muslimin juga di sana. Mengenang Bandung aku kuberdoa semoga Allah rawat hidayah ini dan Allah bersihkan diri ini dari dosa-dosa ya Ghaffar.
Sahabat, di kota itu pula kutemukan kekejaman dan kebobrokan. Kesenangan dunia digelar dalam geriap Mall dan Plaza. Orang tua bangga dengan anaknya yang bermalam minggu memakai jeans ketat dan kaos warna warni sepeti etalase Factory Outlet. Konser musik dimana-mana. Bandung adalah surga bagi siapapun yang ingin menikmati dunia. Hidup di kota gegap gempita membuatku kembali menjadi orang desa. Kubiarkan jari-jariku meloncat-loncat di atas key board, izinkan aku menceritakan petualanganku selama merefleksikan kegundahanku selama di Bandung.
Sejak bertemu Mas Amin (suami) banyak pengalaman baru dan banyak pengetahuan baru. Suamiku bernama Amin Sudarsono. Lulusan Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Suamiku anak lurah Panunggalan, Pulokulon, Grobogan. Dia alumni pondok Al Munawir Semarang. Selama di Jogja juga menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren. Dia pernah mengembara mengikuti murabinya ke Pulau Bacan Halmahera Selatan. Dia juga wartawan terbaik Banjarmasin post yang juga humas DPW PKS Kalsel. Selama di Kalsel dia mengelola dakwah sekolah dan dakwah kampus. Lingkungan social Jogja membuatnya tumbuh menjadi seorang intelektual muda, begitulah yang kutangkap dari tulisan-tulisannya yang menggambarkan betapa banyak buku yang sudah dilahapnya.
Di Bandung Mas Amin memperkenalkanku jihad intelektual Kang Jalaludin Rahmat di Kiaracondong. Tempat yang selama ini hampir tak ingin kukunjungi. Delapan tahun, mengapa aku tak pernah kesana mereguk samudera ilmu dari seorang intelektual muslim yang bukunya sangat favorit kubaca ' Rekayasa Sosial'. Aku juga tak sempat mencari majelis ta'lim Syarikat Islam yang tokohnya juga banyak di Bandung. Aku juga tak pernah hadir di pesantren NU, jam'iyah keluarga besarku yang selama ini mengajarkanku shalat dan tilawah qur'an. Aku juga tak sempat menikmati semangat dakwah Persis sebagai organisasi Islam terbesar di Jawa Barat. Aku juga tak terfikir belajar dari bagaimana jam'iyah Muhamadiyah membangun infrastruktur sosial. Selama ini, aku hanya bertemu tarbiyah. Aku terbiasa dilindungi dari berbagai aliran yang 'mungkin' sesat. Bahkan aku menjadi paranoid dengan jam'iyah lain. Astaghfirullah. Sungguh aku telah melewatkan hidupku di Bandung dari menuntut ilmu.
Di Jogja aku mengenal Kyai Mahlil yang pesantrennya mencetak banyak penulis dan sastrawan. Kisah hidup beliau yang mengajarkan kaidah menuntut ilmu yang sama seperti dalam Kitab Ta'lim Muta'allim. Mahlil remaja membakar ijazahnya. Beliau lepaskan kesempatan kuliah di Al Azhar demi taat pada ayahnya menuntut ilmu di sebuah pesantren kecil di Kajoran Magelang. Saat ini beliau mengasuh sebuah majalah pesantren namanya Fadhilah. Majalah ini salah satu dari modernisasi di pesantren NU. Saat ini Kyai Mahlil masih Ketua DPW PKB DIY. Ada keindahan yang memiliki daya tarik besar dalam jiwaku.
Aku mengenal jam'iyah ma'iyah Emha Ainun Najib yang rumahnya tak jauh dari warungku. Malam itu Jogja diguyur hujan, tapi jama'ah masih duduk lesehan beralas 'bagor' basah kuyub. Lantunan shalawat dengan aransemen gamelan Kyai Kanjeng diramu dengan essay Negeri U- RI-k u-RI-kan nya Kyai Mahlil tambah taushiyah Kyai Hafidz pengasuh pesantren Krapyak serta uraian panjang Pak Budi membuat malam itu menyenangkan. Ma'iyahan malam itu juga di meriahkan lagu 'Tak Gendong” dan Alif fathah a nya Mbah Surip dan keheranan Dr. Suzan dari Jerman rasanya tak terasa air hujan yang membasahi badanku, akupun mencoba tetap tinggal di pelataran merasakan militansi jama'ah maiyahan Cak Nun yang notabenenya adalah anak muda terpelajar. Aku sekarang mengerti mengapa dari halaqah Cak Nun ini bisa menggulingkan Suharto 98. Sebuah gerakan pembebasan, bukankah Islam adalah gerakan pembebasab manusia dari jajahan berbagai Illah selain Allah? Aku ingat Mas Amin menunjukkanku buku kumpulan puisi Lautan Jilbab yang menjadi awal perjuangan melawan pelarangan jilbab. Dahsyat nian gerakan budaya ini. Sebuah padepokan kecil di kampung bisa menggulirkan perubahan besar.
Aku dikenalkan Mas Amin ke Gus Nuri, pengasuh pesantren yang juga komandan Laskar Jihad di Jalan Kaliurang Yogyakarta. Kami ditemui di sebuah ruangan luas seperti aula. Ada pengimaman, berarti ini mesjid. Ada sebuah ruangan buatan dengan tabir kain putih di sudut kiri depan dekat pengimaman. Itu pasti ruangan i'tikaf Gus Nuri. Mesjid ini satu bangunan dengan rumah Gus Nuri di bagian belakang. Bagian dalam rumah tempat tinggal santri putri dan lantai 2 untuk santri putra. Santri putra banyak yang tidur nyenyak di dalam gulungan tikar di shaf belakang mesjid. Mesjid ini memang belum jadi, tetapi sudah aktif dipakai. Mimbarnya terbuat dari tumpukan 3 kotak botol Coca-Cola yang ditutup kain putih.
Kami disambut ummi (istri Gus Nuri) seorang muslimah dengan penampilan sederhana. Dari raut mukanya ramah, tetapi tak banyak berkata-kata. Gus Nuri memakai jubah dan sorban. Beliau senang sekali melihat kedatangan kami. Kami datang dengan seorang kawan Mas Amin memulai pembicaraan dengan memperkenalkan istrinya dan bercerita sekalimat tentang pencalegan kawan kami.
Baru sekalimat, tetapi Gus Nuri seakan-akan tahu apa yang kami fikirkan. Gus Nuri membahas tentang amanah. Kesepetlah aku tentang penceleganku yang kutinggal. Lalu dibahas pula tentang perkembangan dakwah PKS. Konsekuensi musyarakah dan distorsi perjuangan dalam manuver politik elit, tentang cita-cita Anis Matta, tentang diamnya Dr. Dayat (HNW) dan gejolak kader inti PKS yang sebagian memilih tidak ikut-ikutan dalam geriap yang bertaburan ghanimah ini. Semua mengalir, pertanyaan yang kami diskusikan di mobil tadi terjawab sudah.
Teringat aku dengan murabbiku seorang guru sederhana yang memaknai hidupnya dengan jihad. Semangat membara kader sadang Serang yang digerakkan ibu-ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Sungguh terharu melihat perjuangan kader PKS. Tapi satu, Gus Nuri mengingatkan kami untuk selalu berpegang teguh pada Qur'an dan Sunnah. Memang, ada yang lebih penting dari kegundahanku yaitu mempelajari, mengamalkan dan menyebarkan Qur'an dan Sunnah. Pertemuan kami berakhir jam 23.00 karena jama’ah Laskar Jihad sudah hadir untuk pengajian.
Neng Shinta, sekarang di ruang tamu sedang ada diskusi menarik. Tukang pijet tulang yang juga guru ngaji, sepupuku alumni Pesantren Lirboyo, dan Bapakku petani yang sempat juga nyantri di Tuban. Tentang Pemilu, banyak orang yang menganggap memenangkan partainya adalah bagian dari jihad. Bahwa belum tentu itu jihad. Dan salah jika ada caleg yang mengkampanyekan dirinya. Itu sudah ujub. Itu sudah memburu kekuasaan namanya. Ah, benar juga. Kurasakan juga godaan untuk memenangkan diriku, tapi akhirnya kupilih keluar dari gelombang. Shin, kurasakan sudah godaan harta, kekuasaan dan syahwat. Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah itu hingga ajal. Kata Pak Mat (guru ngaji) bahwa ilmu itu penting untuk menjadi landasan amal. Saat ini banyak partai Islam yang tidak memakai ilmu dalam geraknya. Ah, cerdas nian tukang pijat ini. Kesederhanaannya semakin membuatku takjub dengan kehidupannya.
Neng Shinta, disini aku mengenal Bu Nyai Shinto Nabillah sesepuh NU di Magelang guru ngaji ibuku. Beliau pengasuh Pondok Pesantren putrid Al Hidayat. Ahad lalu ada Khataman pondok yang salah satu kelompok pesertanya adalah ibu-ibu seusia ibuku. Mereka khataman Fiqih Shalat. Ada juga yang khataman Juz Amma, dan Qur'an. Dan tahun ini ada 6 hafidzah qur'an yang diwisuda. Subhanallah, tak tertahan air mataku mendengar lantunan qur'an mbak Wafiq Azizah (juara internasional qiroatil qur'an) yang membaca ayat barang siapa yang beriman dan istiqomah maka, wa la takhafu wa la takhzani waabshiru bil jannatilladzi kuntum ta'malun.....oh Allah, sinarilah hatiku dengan cahaya Al Qur'an.
Subhanallah, semangat thalabul ilmi kaum NU yang luar biasa. Nenek-nenek, orang-orang kampung yang kostumnya masih memakan kebaya dan kain sinjang. Meskipun harus menempuh jarak yang jauh mereka tetap datang untuk belajar Islam. Bu Nyai Shinto mengajarkan mulai dari fiqih thaharah hingga tafsir qur'an. Sabar sekali, tanpa terburu-buru. Tak ada kader karbitan. Kalau belum khatam fiqih ibadah belum masuk qur'an.
Aku teringat dengan kita yang ngaji dengan Rasmul Bayan dan malas kali aku membaca referensi asli buku-buku para Ulama Islam. Akhirnya, hasil dari tarbiyah Rasmul bayan ya seperti aku. Kader karbitan, tak bisa bahasa Arab tetapi mengajar Al Qur’an bahkan sudah baca Riyadu Shalihin, sedikit Fi Dzilalil Qur’an, Sirah Nabawiyah dan sedikit petikan Ihya Ulumudinnya Imam Al Gazali. Mm, yang penting terus bersemangat belajar Islam dan belajar untuk mengikuti jalan dakwah Rasulullah SAW. Iya kan…
Neng Shinta, aku tersadar bahwa aku selama ini bagai katak dalam tempurung tentu saja karena kurang ilmu. Mengapa orang tarbiyah tidak suka dengan tahlil? Karena bid'ah. Apa dasarnya. Alasannya ada tawasul ke syeikh Abdul Qadir Jailani. Tahukah mereka siapa Syeikh Abdul qadir Jailani? Aku baca buku Fathul Ghaib karangan Syeikh Abdul Qadis Jailani yang isinya penuh dengan samudera hikmah. Kutemukan kalimat-kalimat yang mengajarkan bagaimana menjadi hamba yang dicintai Allah. Bacaan tahlil juga sama dengan al Ma'tsurat. Orang membaca tahlil juga bukan meminta pada yang mati tetapi mendoakan yang mati dan juga untuk yang hidup. Aku banyak belajar bagaimana model dakwah NU bisa mencerdaskan masyarakat samapai akar rumput.
Neng Shinta, semangatku menyala-nyala setiap kali kulihat rombongan santri menenteng kitab kuningnya. Hatiku berbinar-binar melihat anak-anak sekolah madrasah yang bersepeda berombongan memenuhi jalan. Dakwah walisongo begitu luar biasa. Aku yakin geriap dakwah ini tak hanya di Jawa tapi di pelosok nusantara. Sahabat, aku ingin mengajakmu kembali mereguk samudera ilmu. Tak ada kata untuk terlambat. Titip rinduku untuk saudari-saudariku disana.
Langganan:
Postingan (Atom)