Rabu, 15 Juni 2016

NABI ADAM AS


Asal Usul Penciptaan Manusia

Segala sesuatu yang kita lihat saat ini dahulunya belum ada. Dahulu tidak ada manusia dan binatang, tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada bumi, matahari, bulan dan bintang. Dengan iradah dan qudrahnya Allah lalu menciptakan segala apa yang kita lihat saat ini. Diciptakan oleh Allah langit dan bumi dan apa-apa yang terdapat di antaranya di dalam waktu 6 hari. Hari yang bukan berarti siang dan malam seperti yang lazim kita gunakan sekarang, tetapi yang berarti proses pertumbuhan atau masa yang lamanya mungkin beribu-ribu atau berjuta-juta tahun.

Bila Allah berkehendak akan mengadakan atau menciptakan sesuatu, Allah hanya mengucapkan satu perkataan yang bersifat perintah yaitu “kun” yang artinya “jadilah”. Maka “fayakun”, terjadilah apa yang Allah kehendaki.

Dengan cara begitu maka tercipta dan terjadilah bumi dengan lautan dan daratannya, bergubung-gunung, berjurang lengkap dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatangnya. Terciptalah matahari dengan cahayanya yang terang cemerlang, bulan yang sinarnya kilau gemilau, dan bintang-bintang yang berkelap-kelip. Semuanya beredar di angkasa dengan peredaran yang teratur menurut sunah Ilahi yang menciptakan dan mengaturnya, bersimpang siur dan berkejar-kejaran.

Kemudian diciptakan Allah pula Malaikat-malaikat yang selalu patuh menjalankan perintah Allah yang menciptakannya, mengerjakan ibadah dan tugas masing-masing yang sudah ditentukan Allah baginya. Di antara mereka ada yang menjadi penjaga bumi, penjaga langit, yang menurunkan hujan dan ada yang menjadi pesuruh Allah sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya. Dalam menjalankan tugasnya malaikat senantiasa bertasbih dan mensucikanNya.

Kemudian Allah ciptakan ADAM sebagai manusia yang pertama untuk menempati bumi yang luas terbentang. Manusia beranak dan berketurunan menjadi manusia banyak bergolong-golongan dan berbangsa-bangsa, berserak di seluruh pelosok bumi.

Maksudnya manusia diciptakan Allah adalah agar manusia itu menyembah dan mensucikan Allah, lalu menjadi pengatur bumi yang tak teratur, bercocok tanam, memelihara binatang-binatang, mendirikan rumah-rumah, jalan-jalan dan sebagainya.

Allah memberi tahukan kehendakNya ini kepada Malaikat , “ Aku hendak menciptakan manusia untuk menjadi pengatur di muka bumi”
Lalu para malaikat menjawab, “Apakah manusia yang Engkau ciptakan untuk mengatur bumi ya Tuhan kami? Tidakkah manusia akan merusak bumi dan menumpahkan darah berbunuh-bunuhan? Kiranya kami selalu patuh dan mensucikan akan Engkau”

Terhadap saran malaikat itu Allah berfirman :
“Aku lebih tahu apa yang kamu tidak mengetahuinya”. Ya. Allahlah yang lebih tahu rahasia apa yang terkandung dari kejadian manusia ini. Tuhanlah yang lebih tahu kenapa kita manusia yang diciptakan Tuhan untuk mengatur bumi. Sekalipun Allah juga tahu bahwa manusia di permukaan bumi akan berbuat kerusakan, bersilang sengketa akan berbunuh-bunuhan menumpahkan darah.

Tetapi jangan sampai kita lupakan bahwa Tuhan juga tahu, bahwa tidak semua manusia itu perusak. Tidak semua manusia suka bersilang sengketa dan berbunuh-bunuhan. Di antara manusia yang banyak itu ada banyak manusia yang baik yang selalu berbuat kebajikan terhadap sesama manusia, selalu berusaha dan berjuang untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia.

Setelah mendengar jawaban Allah yang pendek tetapi menganduk makna yang dalam itu, semua malaikat menjadi diam, tidak menjawab lagi. Hanya berkata dengan berbisik di antara sesama mereka:
“memang benar. Tuhan kita Maha Mengetahui segala sesuatu dari yang sekecil-kecilnya sampai perkara yang sebesar-besarnya. Allah mengetahui segala tang dhahir dan yang batin, yang kelihatan oleh mata dan yang tidak kelihatan. Tidak ada satu perkara dan kejadian yang bagaimanapun kecilnya yang terjadi di langit dan bumi atau di antaranya.

“Apa saja yang Allah ciptakan dan perbuat tentu ada guna dan faedahnya, tentu ada maksud dan tujuannya. Tidak ada satu bendapun yang diciptakan Allah akan sia-sia. Hanya kita sendiri yang tidak atau belum mengetahuinya”.

Allah meneruskan firmanNya terhadap para malaikat itu:
“Manusia itu, yaitu Adam, akan aku ciptakan dari tanah. Apabila sudah terbentuk dan selesai, akan kehembuskan kepadanya rohKu agar ia menjadi hidup, dapat bergerak, berperasaan, berpengertian dan berkesadaran. Bila Adam sudah menjadi hidup dengan pengertian dan kesadaran hendaklah kamu sekalian bersujud memberi hormat kepadanya.

Ya, memang manusia itu adalah ciptaan Allah yang terakhir. Sebab itu manusia adalah sebaik-baik makhluq. Manusia memiliki keistimewaan jasmani dan rohani. Maka sudah sepantasnyalah manusia mendapat penghormatan yang begitu tinggi dari para malaikat.

Malaikat sebagai makhluk Allah yang berkesadaran tinggi, dapat mengerti dan memahami perintah Allah untuk menghormati manusia atau Adam.
Mereka lalu menjawab, “ Baiklah ya Tuhan kami, kami mengengar dan kami taat segala perintahMu”.


Lalu Allah menciptakan Adam dari tanah dengan tanganNya sendiri berbentuk seperti bentuk manusia seperti sekarang ini. Yaitu berkepala, berbadan, bertangan, berkaki. Lalu Allah hembuskan roh kepadanya sehingga Adam menjadi hidup. Adam menggerakkan kedua kaki dan tangannya lalu ia bersin (batuk) sehingga bergerak seluruh badannya, terbuka kedua matanya, bergerak jantung dan paru-parunya.

Ketika Adam membuka matanya melihat seluruh alam sekitarnya timbullah pengertian dan kesadaran itu, dia mengucap: “ Alhamdulillahi Rabbil Alamin (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam). Malaikat kagum sekagum-kagumnya melihat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Adam pertama kalinya. Satu ucapan yang berisi pengertian dan kesadaran yang tinggi. Pengertian dan kesadaran yang tinggi bahwa alam ini seluruhnya diciptakan oleh Allah, sebab itu selamanya Allah harus selalu dipuji dan disanjung.

Para malaikat serentak menjawab ucapan Adam:
“Yarhamukallahu, ya Adam. Artinya Allah selalu menumpahkan rahmatNya kepada engkau ya Adam, dan selamatlah.
Para malaikat lalu berdiri berjejer di sekeliling Adam lalu sujud dan menghormat kepada Adam sebagaimana Allah perintahkan kepada mereka.

Hanya iblis yang tidak mau sujud dan menghormat kepada Adam. Dia tetap berdiri dan membangkang dengan sombongnya tidak mau menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Manusia dan Iblis

Iblis membangkang perintah Allah karena kesombongannya. Allah lalu berkata kepada iblis:
“Bukankah engkau juga makhluk ciptaanKu, yang juga harus tunduk dan menjalankan perintahKu? Tetapi kenapa engkau tidak sujud dan memberi hormat terhadap Adam sebagaimana aku perintahkan?”

Iblis menjawab:
“Engkau ciptakan aku dari api. Dan Adam dari tanah. Api lebih mulia dari tanah. Itu berarti aku lebih mulia dari Adam. Maka tidak sepantasnyalah aku sujud dan hormat terhadap Adam itu.”

Mendengar sanggahan itu, Allah menjadi marah lalu berkata kepada iblis:
“Tempat ini (surga) bukan tempat orang yang menyanggah terhadap Aku. Sekarang juga, engkau harus keluar dan enyah dari sini”

Sesudah keluar dan terusir dari sorga, iblis kembali menyanggah dan berkata kepada Allah:
“ Ya Tuhan, Engkau usir aku dari surga ini karena Adam. Aku bersumpah bahwa aku dan semua keturunanku akan memusuhi Adam dan keturunanya selama-lamanya.
Mereka akan aku sesatkan. Mereka akan aku celakakan. Aku akan ajak dan anjurkan mereka berbuat kejelekan dan kerusakan agar kehidupan manusia selamanya susah dan kacau balau”

Mendengar ancaman iblis, Allah lalu berkata:
“Untuk menghindari tipu dayamu, kepada manusia akan aku beri senjata yang ampuh, yaitu akal. Akal itu akan aku bimbing dengan petunjuk-petunjuk (agama) manusia yang tetap mempergunakan akal dan menurut petunjuk-petunjukku tidak akan dapat engkau sesatkan dan perdayakan. Dengan akal itu mereka akan membedakan yang baik dan yang buruk.

Dengan tuntunan petunjuk-Ku, akal mereka akan mempunyai daya berfikir yang benar. Siapa yang tidak menggunakan akal dan tidak menurut petunjuk-Ku tentu dapat engkau goda dan sesatkan. Ini akan dipertanggungjawabkan di hadapanKu kelak di akhirat.

Mendengar keterangan Allah tersebut, Iblis terdiam. Tetapi hatinya semakin dongkol, iri hati dan dengkinya terhadap manusia semakin memuncak.

Dia berpaling kepada Adam. Mata dan seluruh perhatiannya sekarang ditujukan kepada Adam. Dia ingin tahu dimana letak kelemahan jasmani dan rohani manusia. Adam dipelajarinya dari segala segi. Akhirnya iblis berkesimpulan bahwa manusia itu selain mempunyai kekuatan berfikir yaitu akal yang amat hebat itu juga memiliki banyak kelemahan.
Di samping akal, manusia juga memiliki hawa nafsu. Dan nafsu itu banyak sekali ragamnya. Ada nafsu terhadap makanan dan minuman, nafsu syahwat, nafsu harta dan kekayaan, terhadap rumah tempat tinggal dan kendaraan, ada pula nafsu terhadap kedudukan yang tinggi di tengah-tengah manusia.
Di tiap-tiap nafsu, tabiat dan karakter terdapat banyak sekali pintu atau lubang kelemahan dan setiap waktu bisa dimasuki iblis untuk mengacaukan dan memperdayakan kehidupan manusia.

Setelah melihat kelemahan itu semua Iblis tertawa kecut. Dia tertawa gembira karena berhasil melihat kelemahan-kelamahan Adam. Tetapi hatinya juga takut bahwa manusia di samping memiliki kelemahan juga memiliki kekuatan yaitu akal yang dapat menerima petunjuk Allah. Petunjuk Allah adalah benteng berlapis baja yang tidak mungkin ditembus iblis.

Iblis dari semula menyadari kelemahan dirinya menghadapi manusia yang sadar dan iman yang berbentengkan petunjuk Allah. Dengan petunjuk Allah, manusia akan selamat dari godaan iblis dan akan selamat di dunia dan di akhirat.

Iblis adalah kekuatan gaib yang bisa disamakan dengan gelap. Sedang keimanan dan petunjuk Allah adalah kekuatan gaib yang bisa disamakan dengan cahaya. Satu tempat jika tidak dimasuki cahaya berati gelap. Bila tempat yang gelap itu dimasuki cahaya, pasti gelapnya lenyap.

Begitu pulalah manusia sebagai tempat. Bila dia kosong dari keimanan dan petunjuk Allah, akan bersimaharajalelalah setan dan iblis atas dirinya. Tetapi jika manusia punya keimanan dalam dadanya dan selalu disiram dengan petunjuk Ilahi, segala daya iblik takkan mempan memperdayakannya. (bersambung)

Sumber : Disadur dari Buku Rangkaian Cerita Dalam Al Quran karya Bey Arifin 26 September 1963. Buku ini diterbitkan PT Al Ma'arif CV Peladjar, Bandung. Buku ini buku yang sangat penting bagi suami saya Amin Sudarsono. Maka saya tulis ulang dan saya renungi setiap kata-katanya.