Duh Gusti mugi paringa margi kaleresan, dados margine manungsa kang manggih kanikmatan, sanes margine manungsa kang patut panjenengan laknati.
Berhentilah menyesali diri. Karena Allah tak suka dengan manusia yang menyesali takdirnya. Mulailah dengan hidup yang baru. Mulailah beramal, lakukan mulai dari diri sendiri. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang.
Itu ada suara berbisik yang menyeruak dalam ruangan 4x3 itu. Tasbih jangkrik, katak pohon, burung malam berpadu menjadi akapela yang mengajarkan ketaatan, kesabaran, keistiqomahan pada manusia. Saying, kebanyakan manusia terlelap bersama selimut dan bantalnya.
Saat malam hening itulah, terkuak rahasia kekuatan kata-kata. Allah tlah ciptakan lisan untuk menggedor hati manusia, mengikis kesombongan, menghilangkan kesedihan, dan memotivasi yang lemah. Kalau hati terasa keras, nasehat tak berbekas, shalat tak lagi terasa getarannya maka dzikir lisanlah pemecahnya.
Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim, Astaghfirullahal adziim,
Pecahlah hati yang keras. Sesungguhnya batu yang keras itu pecah bukan karena pukulan yang kuap saja, tetapi juga seringnya dipukul. Bahkan batu yang keras itu akan lapuk karena tetesan air yang terus menerus. Bukankah batu dan air adalah dua benda yang sifatnya berlawanan? Air yang lembut. Itulah tasbih.
Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah,
Maha Suci Allah, itulah air yang lembut seirama dengan tasbih binatang malam. Duhai jasadku, bangunlah dari tidurmu. Bersahabatlah dengan hawa dingin sepertiga malam terakhir dengan memercikkan air wudhu di mukamu.
Ya ayyuhal muddatsir, qum fa andzir, warabbaka fakabbir, wa tsiyaabaka fakabbir…
Tahajud dik..