Rabu, 21 Oktober 2009

PRICING EVERY PART OF BODY

Setahun ini beberapa kali aku masuk rumah sakit. Aku harus menjalani perawatan intensif terkait dengan kehamilanku. Aku mencoba memanfaatkan layanan Rumah Sakit pemerintah di Jogja. Hampir empat jam aku menunggu sementara aku sudah mengalami perdarahan selama 2 malam. Akhirnya suamiku membawaku ke rumah sakit bersalin swasta mencari dokter spesialis kebidanan.

Tiga klinik swasta kami kunjung dan setiap klinik merekomendasikan untuk bed rest rawat inap. Setelah itu kami disodori daftar harga kamar dan tindakan medis. Akhirnya kami memilih sebuah rumah sakit swasta karena aku lelah pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Saat itu, kami memiliki sebuah warung makan. Dengan omset 168.500 per hari. Dalam sebuan ini omset kami naik menjadi 7 juta. Baru saja bisnis kami bangun, kami harus mengeluarkan biaya besar untuk perawatanku. Walaupun akhirnya aku keguguran.

Itu adalah kisahku yang menyedihkan. Karena pada 9 bulan berikutnya aku mengalami kasus yang sama, meskipun secara finansial kami sudah lebih siap.

Sepekan yang lalu aku juga sakit dan memerlukan pemeriksaan laboratorium. Aku menjalani cek darah dan ditemukan bahwa kadar trombositku menurun. Dokter memberiku obat dan menyuruhku tes darah dua hari kemudian. Obatku sangat mahal karena dokter memberiku resep obat paten. Akhirnya aku minta semua obatku diganti obat generik.

Dua pekan berikutnya aku datang kembali ke laboratorium untuk memeriksa kesehatan kandunganku. Kembali aku direkomendasikan dokter sejumlah tes untuk mengetahui kesehatanku. Petugas laboratorium kemudian menghitung biaya yang harus kubayar untuk sejumlah tes yang direkomendasikan dokter.

Aku jadi teringat kesah seorang karyawan pabrik di Amerika. Dia mengalami patah tulang di tiga jarinya. Rumah sakit kemudian menyodorkan sejumlah harga masing-masing jari. Menyambung jari telunjuk lebih mahal dari jari manis. Itu cerita dikisahkan Michael Moore dalam film "The Sicko".

Betapa sedih. Manusia dihargai dengan uang. Bukankah hidup sehat adalah hak asasi manusia? Apakah yang miskin tidak memiliki hak untuk sehat? Indonesia adalah negara yang menghargai cinta antara manusia. Bukankah cerita yang sama dengan cerita dalam film? Saya berharap negara saya tidak mengikuti contoh bagaimana Amerika memperlakukan warganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar