Asal
Usul Penciptaan Manusia
Segala sesuatu yang kita lihat saat ini
dahulunya belum ada. Dahulu tidak ada manusia dan binatang, tidak ada
tumbuh-tumbuhan, tidak ada bumi, matahari, bulan dan bintang. Dengan iradah dan
qudrahnya Allah lalu menciptakan segala apa yang kita lihat saat ini.
Diciptakan oleh Allah langit dan bumi dan apa-apa yang terdapat di antaranya di
dalam waktu 6 hari. Hari yang bukan berarti siang dan malam seperti yang lazim
kita gunakan sekarang, tetapi yang berarti proses pertumbuhan atau masa yang lamanya
mungkin beribu-ribu atau berjuta-juta tahun.
Bila Allah berkehendak akan mengadakan
atau menciptakan sesuatu, Allah hanya mengucapkan satu perkataan yang bersifat
perintah yaitu “kun” yang artinya “jadilah”. Maka “fayakun”, terjadilah apa
yang Allah kehendaki.
Dengan cara begitu maka tercipta dan
terjadilah bumi dengan lautan dan daratannya, bergubung-gunung, berjurang
lengkap dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatangnya. Terciptalah matahari
dengan cahayanya yang terang cemerlang, bulan yang sinarnya kilau gemilau, dan
bintang-bintang yang berkelap-kelip. Semuanya beredar di angkasa dengan
peredaran yang teratur menurut sunah Ilahi yang menciptakan dan mengaturnya,
bersimpang siur dan berkejar-kejaran.
Kemudian diciptakan Allah pula
Malaikat-malaikat yang selalu patuh menjalankan perintah Allah yang
menciptakannya, mengerjakan ibadah dan tugas masing-masing yang sudah
ditentukan Allah baginya. Di antara mereka ada yang menjadi penjaga bumi,
penjaga langit, yang menurunkan hujan dan ada yang menjadi pesuruh Allah
sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya. Dalam menjalankan tugasnya
malaikat senantiasa bertasbih dan mensucikanNya.
Kemudian Allah ciptakan ADAM sebagai
manusia yang pertama untuk menempati bumi yang luas terbentang. Manusia beranak
dan berketurunan menjadi manusia banyak bergolong-golongan dan
berbangsa-bangsa, berserak di seluruh pelosok bumi.
Maksudnya manusia diciptakan Allah adalah
agar manusia itu menyembah dan mensucikan Allah, lalu menjadi pengatur bumi
yang tak teratur, bercocok tanam, memelihara binatang-binatang, mendirikan
rumah-rumah, jalan-jalan dan sebagainya.
Allah memberi tahukan kehendakNya ini
kepada Malaikat , “ Aku hendak menciptakan manusia untuk menjadi pengatur di
muka bumi”
Lalu para malaikat menjawab, “Apakah
manusia yang Engkau ciptakan untuk mengatur bumi ya Tuhan kami? Tidakkah
manusia akan merusak bumi dan menumpahkan darah berbunuh-bunuhan? Kiranya kami
selalu patuh dan mensucikan akan Engkau”
Terhadap saran malaikat itu Allah
berfirman :
“Aku lebih tahu apa yang kamu tidak
mengetahuinya”. Ya. Allahlah yang lebih tahu rahasia apa yang terkandung dari
kejadian manusia ini. Tuhanlah yang lebih tahu kenapa kita manusia yang
diciptakan Tuhan untuk mengatur bumi. Sekalipun Allah juga tahu bahwa manusia
di permukaan bumi akan berbuat kerusakan, bersilang sengketa akan
berbunuh-bunuhan menumpahkan darah.
Tetapi jangan sampai kita lupakan bahwa
Tuhan juga tahu, bahwa tidak semua manusia itu perusak. Tidak semua manusia
suka bersilang sengketa dan berbunuh-bunuhan. Di antara manusia yang banyak itu
ada banyak manusia yang baik yang selalu berbuat kebajikan terhadap sesama
manusia, selalu berusaha dan berjuang untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup
manusia.
Setelah mendengar jawaban Allah yang
pendek tetapi menganduk makna yang dalam itu, semua malaikat menjadi diam,
tidak menjawab lagi. Hanya berkata dengan berbisik di antara sesama mereka:
“memang benar. Tuhan kita Maha Mengetahui
segala sesuatu dari yang sekecil-kecilnya sampai perkara yang sebesar-besarnya.
Allah mengetahui segala tang dhahir dan yang batin, yang kelihatan oleh mata
dan yang tidak kelihatan. Tidak ada satu perkara dan kejadian yang bagaimanapun
kecilnya yang terjadi di langit dan bumi atau di antaranya.
“Apa saja yang Allah ciptakan dan perbuat
tentu ada guna dan faedahnya, tentu ada maksud dan tujuannya. Tidak ada satu
bendapun yang diciptakan Allah akan sia-sia. Hanya kita sendiri yang tidak atau
belum mengetahuinya”.
Allah meneruskan firmanNya terhadap para
malaikat itu:
“Manusia itu, yaitu Adam, akan aku
ciptakan dari tanah. Apabila sudah terbentuk dan selesai, akan kehembuskan
kepadanya rohKu agar ia menjadi hidup, dapat bergerak, berperasaan,
berpengertian dan berkesadaran. Bila Adam sudah menjadi hidup dengan pengertian
dan kesadaran hendaklah kamu sekalian bersujud memberi hormat kepadanya.
Ya, memang manusia itu adalah ciptaan
Allah yang terakhir. Sebab itu manusia adalah sebaik-baik makhluq. Manusia
memiliki keistimewaan jasmani dan rohani. Maka sudah sepantasnyalah manusia
mendapat penghormatan yang begitu tinggi dari para malaikat.
Malaikat sebagai makhluk Allah yang
berkesadaran tinggi, dapat mengerti dan memahami perintah Allah untuk menghormati
manusia atau Adam.
Mereka lalu menjawab, “ Baiklah ya Tuhan
kami, kami mengengar dan kami taat segala perintahMu”.
Lalu Allah menciptakan Adam dari tanah
dengan tanganNya sendiri berbentuk seperti bentuk manusia seperti sekarang ini.
Yaitu berkepala, berbadan, bertangan, berkaki. Lalu Allah hembuskan roh
kepadanya sehingga Adam menjadi hidup. Adam menggerakkan kedua kaki dan
tangannya lalu ia bersin (batuk) sehingga bergerak seluruh badannya, terbuka
kedua matanya, bergerak jantung dan paru-parunya.
Ketika Adam membuka matanya melihat
seluruh alam sekitarnya timbullah pengertian dan kesadaran itu, dia mengucap: “
Alhamdulillahi Rabbil Alamin (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam).
Malaikat kagum sekagum-kagumnya melihat mendengar perkataan yang keluar dari
mulut Adam pertama kalinya. Satu ucapan yang berisi pengertian dan kesadaran yang
tinggi. Pengertian dan kesadaran yang tinggi bahwa alam ini seluruhnya
diciptakan oleh Allah, sebab itu selamanya Allah harus selalu dipuji dan
disanjung.
Para malaikat serentak menjawab ucapan
Adam:
“Yarhamukallahu, ya Adam. Artinya Allah
selalu menumpahkan rahmatNya kepada engkau ya Adam, dan selamatlah.
Para malaikat lalu berdiri berjejer di
sekeliling Adam lalu sujud dan menghormat kepada Adam sebagaimana Allah
perintahkan kepada mereka.
Hanya iblis yang tidak mau sujud dan
menghormat kepada Adam. Dia tetap berdiri dan membangkang dengan sombongnya
tidak mau menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Manusia
dan Iblis
Iblis membangkang perintah Allah karena
kesombongannya. Allah lalu berkata kepada iblis:
“Bukankah engkau juga makhluk ciptaanKu,
yang juga harus tunduk dan menjalankan perintahKu? Tetapi kenapa engkau tidak
sujud dan memberi hormat terhadap Adam sebagaimana aku perintahkan?”
Iblis menjawab:
“Engkau ciptakan aku dari api. Dan Adam
dari tanah. Api lebih mulia dari tanah. Itu berarti aku lebih mulia dari Adam.
Maka tidak sepantasnyalah aku sujud dan hormat terhadap Adam itu.”
Mendengar sanggahan itu, Allah menjadi
marah lalu berkata kepada iblis:
“Tempat ini (surga) bukan tempat orang
yang menyanggah terhadap Aku. Sekarang juga, engkau harus keluar dan enyah dari
sini”
Sesudah keluar dan terusir dari sorga,
iblis kembali menyanggah dan berkata kepada Allah:
“ Ya Tuhan, Engkau usir aku dari surga
ini karena Adam. Aku bersumpah bahwa aku dan semua keturunanku akan memusuhi
Adam dan keturunanya selama-lamanya.
Mereka akan aku sesatkan. Mereka akan aku
celakakan. Aku akan ajak dan anjurkan mereka berbuat kejelekan dan kerusakan
agar kehidupan manusia selamanya susah dan kacau balau”
Mendengar ancaman iblis, Allah lalu
berkata:
“Untuk menghindari tipu dayamu, kepada
manusia akan aku beri senjata yang ampuh, yaitu akal. Akal itu akan aku bimbing
dengan petunjuk-petunjuk (agama) manusia yang tetap mempergunakan akal dan
menurut petunjuk-petunjukku tidak akan dapat engkau sesatkan dan perdayakan.
Dengan akal itu mereka akan membedakan yang baik dan yang buruk.
Dengan tuntunan petunjuk-Ku, akal mereka
akan mempunyai daya berfikir yang benar. Siapa yang tidak menggunakan akal dan
tidak menurut petunjuk-Ku tentu dapat engkau goda dan sesatkan. Ini akan
dipertanggungjawabkan di hadapanKu kelak di akhirat.
Mendengar keterangan Allah tersebut,
Iblis terdiam. Tetapi hatinya semakin dongkol, iri hati dan dengkinya terhadap
manusia semakin memuncak.
Dia berpaling kepada Adam. Mata dan
seluruh perhatiannya sekarang ditujukan kepada Adam. Dia ingin tahu dimana
letak kelemahan jasmani dan rohani manusia. Adam dipelajarinya dari segala
segi. Akhirnya iblis berkesimpulan bahwa manusia itu selain mempunyai kekuatan
berfikir yaitu akal yang amat hebat itu juga memiliki banyak kelemahan.
Di samping akal, manusia juga memiliki
hawa nafsu. Dan nafsu itu banyak sekali ragamnya. Ada nafsu terhadap makanan
dan minuman, nafsu syahwat, nafsu harta dan kekayaan, terhadap rumah tempat
tinggal dan kendaraan, ada pula nafsu terhadap kedudukan yang tinggi di
tengah-tengah manusia.
Di tiap-tiap nafsu, tabiat dan karakter
terdapat banyak sekali pintu atau lubang kelemahan dan setiap waktu bisa
dimasuki iblis untuk mengacaukan dan memperdayakan kehidupan manusia.
Setelah melihat kelemahan itu semua Iblis
tertawa kecut. Dia tertawa gembira karena berhasil melihat kelemahan-kelamahan
Adam. Tetapi hatinya juga takut bahwa manusia di samping memiliki kelemahan
juga memiliki kekuatan yaitu akal yang dapat menerima petunjuk Allah. Petunjuk Allah
adalah benteng berlapis baja yang tidak mungkin ditembus iblis.
Iblis dari semula menyadari kelemahan
dirinya menghadapi manusia yang sadar dan iman yang berbentengkan petunjuk
Allah. Dengan petunjuk Allah, manusia akan selamat dari godaan iblis dan akan
selamat di dunia dan di akhirat.
Iblis adalah kekuatan gaib yang bisa
disamakan dengan gelap. Sedang keimanan dan petunjuk Allah adalah kekuatan gaib
yang bisa disamakan dengan cahaya. Satu tempat jika tidak dimasuki cahaya
berati gelap. Bila tempat yang gelap itu dimasuki cahaya, pasti gelapnya
lenyap.
Begitu pulalah manusia sebagai tempat. Bila
dia kosong dari keimanan dan petunjuk Allah, akan bersimaharajalelalah setan
dan iblis atas dirinya. Tetapi jika manusia punya keimanan dalam dadanya dan
selalu disiram dengan petunjuk Ilahi, segala daya iblik takkan mempan
memperdayakannya. (bersambung)
Sumber : Disadur dari Buku Rangkaian Cerita Dalam Al Quran karya Bey Arifin 26 September 1963. Buku ini diterbitkan PT Al Ma'arif CV Peladjar, Bandung. Buku ini buku yang sangat penting bagi suami saya Amin Sudarsono. Maka saya tulis ulang dan saya renungi setiap kata-katanya.
Sumber : Disadur dari Buku Rangkaian Cerita Dalam Al Quran karya Bey Arifin 26 September 1963. Buku ini diterbitkan PT Al Ma'arif CV Peladjar, Bandung. Buku ini buku yang sangat penting bagi suami saya Amin Sudarsono. Maka saya tulis ulang dan saya renungi setiap kata-katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar