Ospek atau orientasi pengenalan kampus merupakan tradisi dalam dunia kampus di Indonesia dengan berbagai dinamikanya. Tujuan awal ospek di ITB adalah memperkenalkan kehidupan kampus sebagaimana yang terjadi di semua kampus umumnya. Pada perkembangannya, ospek menjadi ajang pengkaderan gerakan mahasiswa. Ketika Indonesia dalam kondisi sosial politik tertekan rezim kedikatoran, ospek menjadi ajang untuk membangun gerakan perlawanan mahasiswa. Sampai era reformasi ospek ITB tetap menjadi sarana pengkaderan yang 'seksi' bagi gerakan sosial manapun.
Dinamika Ospek
Ospek di ITB terdiri dari ospek terpusat (Keluarga Mahasiswa) dan aspek jurusan. Ospek terpusat biasanya hanya satu pekan di awal tahun. Acara ini merupakan pengenalan kehidupan kampus. Ospek ITB adalah hajatan besar mahasiswa yang melibatkan ratusan mahasiswa dalam kepanitiaan. Materi ospek terpusat dibuat serius oleh tim khusus yang akan menjadi acara ospek. Materi ospek biasanya merupakan respon terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia. Materi ini kemudian diterjemahkan detil dengan berbagai metode seperti stadium general, diskusi kelompok, permainan, bakti sosial dan performance art. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini rawan dengan bumbu kekerasan dengan dalih kedisiplinan. (selama lima tahun saya aktif di Keluarga Mahasiswa ITB, acara ini selalu memperhatikan aspek kesehatan mahasiswa)
Ospek merupakan acara kampus yang memiliki nilai strategis bagi entitas manapun yang ingin hidup di kampus. Acara ini merupakan ajang rekrutmen paling efektif bagi organisasi manapun termasuk gerakan ideologi apapun. Organisasi intra kampus maupun ekstra kampus menggunakan acara ini sebagai sarana open house bagi mahasiswa baru. Ospek terpusat juga menjadi sarana untuk menanamkan visi, pemikiran, dan tradisi kampus. Dalam kehidupan gerakan mahasiswa ITB, acara ospek ini disebut sebagai kaderisasi. Ospek juga memiliki nilai sosial yang tinggi karena hanya pada event tersebut menjadi ajang pertemuan mahasiswa lintas jurusan, lintas etnis dan lintas kelompok sosial. Karena sisi strategis ini kemudian ketika rektorat mengeluarkan pelarangan ospek sejak tahun 2000 ditentang keras oleh aktivis kegiatan mahasiswa.
Sisi menarik ospek terpusat adalah bahwa acara ini merupakan sambutan khusus dari Pemerintahan Mahasiswa kepada warga baru. Dokumentasi ospek dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa sambutan ini dilakukan sangat meriah bahkan memiliki nilai artistik tinggi bukti kreatifitas mahasiwa. Berbagai performance art dan keunikan berbagai komunitas mahasiswa yang terdiri dari 64 unit olah laga dan kebudayaan Indonesia serta berbagai jurusan dengan karyanya.
Selain ospek terpusat, ada ospek jurusan yaitu tahapan yang harus dilewati mahasiswa jika ingin menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan. Jargon yang sering disampaikan adalah belum mahasiswa ITB jika belum ikut osjur. Ospek jurusan biasanya bertujuan untuk menanamkan kebersamaan. Masalah terjadi dalam penggunaan metode yang kadang kurang memperhatikan nilai kewajaran. Ospek jurusan dianggap sebagai tradisi yang harus dilestarikan. Acara ini merupakan sarana untuk mentransfer nilai-nilai yang tidak terdefinisi dengan jelas.
Ospek jurusan dilaksanakan sepekan sekali dalam satu tahun pertama kuliah. Materinya sebenarnya cukup positif bahkan beberapa jurusan memasukkan berbagai tutorial kuliah dan kegiatan sosial di dalamnya. Jadi, tindakan kekerasan sangat bisa dihapus jika panitia kegiatan tersebut mau. Beberapa jurusan sudah melakukannya dan bisa.
Perlawanan terhadap Kekerasan Ospek
Perlawanan terhadap kekerasan dalam ospek jurusan (osjur) bukan tidak pernah terjadi. Ada yang mencoba merubah dari dalam dengan menjadi panitia, tetapi sering kali kalah jika tak memiliki pengaruh yang kuat. Selain jurusan Geodesi ada puluhan jurusan di ITB yang berhasil merubah tradisi ospek menjadi tradisi yang positif. Mereka berjuang mempersingkat osjur dan mengubah tradisi kekerasan menjadi tradisi akademik.
Ada juga kelompok mahasiswa yang akhirnya melawan dengan tidak mengikuti acara atau disebut non him. Namun kelompok ini terancam diskriminasi dalam kegiatan kuliah misal dari asisten praktikum, atau dalam tugas-ugas kolektif. Lebih jauh lagi, ospek menjadi politik identitas mahasiswa yang memiliki konsekuensi sosial. Hal inilah yang sering ditakutkan mahasiswa, sehingga memilih untuk bersabar melewati setahun osjur.
Potret di balik Ospek
Kasus meninggalnya mahasiswa ITBdalam kegiatan osjur merupakan potret yang mesti menjadi perhatian siapa saja yang peduli dengan bangsa Indonesia. Musibah itu terjadi di sebuah kampus terbaik di Indonesia. Mereka adalah generasi yang akan mengisi pos-pos kepemimpinan 15 tahun yang akan datang. Apa jadinya bangsa kita jika kehidupan sosial semasa belajarnya dalam tradisi kekerasan. Kekerasan yang ditradisikan tersebut sudah pasti akan terbawa dalam kehidupan mereka selanjutnya.
Kasus ini juga merupakan indikasi menurunnya tradisi intelektual di kalangan mahasiswa. Tindakan kekerasan merupakan tindakan yang jauh dari tradisi kaum intelektual yang lebih mengutamakan diskusi-diskusi pemikiran untuk merubah perilaku. Hal ini juga didukung fakta bahwa di ITB semua gerakan ideologi seperti KAMMI, HMI, PMII, GMNI dan sebagainya tidak diakui dalam konsepsi kemahasiswaan ITB. Akhirnya yang berkembang adalah fanatisme kelompok, baik kelompok jurusan, agama, suku, bahkan fanatisme kampus sendiri yang bisa jadi kurang disadari oleh dosen ITB. Hal ini juga mungkin dialami dalam kehidupan alumni ITB. Ada kebanggan komunitas ITB, persis seperti yang ditanamkan dalam ospek.
Memberantas Kekerasan dengan Kekerasan
Mengingat ospek dan kaitannya dengan aspek sosiologis, kehidupan gerakan mahasiswa, dan gerakan sosial ideologi yang ada di ITB maka penyelesaian yang diambil harus sesuai dengan sifat tersebut. Metode yang dilakukan rektorat ITB selama ini dinilai mahasiswa akan membunuh gerakan mahasiswa. Menghentikan rekrutmen adalah cara efektif untuk memotong generasi mahasiswa ITB yang di kepalanya pernah mengalami ospek. Namun tak disadari bahwa itu bentuk kekerasan baru dalam gerakan mahasiswa. Apa jadinya jika menghilangkan kekerasan dengan kekerasan?
Kekerasan yang dilakukan oleh rektorat bukan hanya dilakukan dengan mendatangkan brimob untuk menghentikan ospek, tetapi juga menggunakan otoritas sebagai rektorat. Seorang aktivis mahasiswa Teknik Sipil 1999 yang juga ketua panitia ospek tidak dijinkan ikut wisuda. Atau ancaman drop out bagi mahasiswa yang menjadi ketua panitia ospek atau ketua himpunan. Mahasiswa bukanlah anak kecil yang begitu saja menurut dengan kebijakan tersebut. Mahasiswa adalah kelompok sosial yang memiliki tanggung jawab sosial menyelesaikan masalah sosialnya sendiri. Kelompok aktivis ini menganggap bahwa tradisi kekerasan ini harus dihilangkan, tetapi jangan sampai kegiatan kaderisasi kampus dihilangkan.
Rektorat juga berusaha untuk menghilangkan ospek dengan tidak memberikan izin dan menggantinya dengan kegiatan yang dibuat oleh rektorat. Kebijakan ini juga ditentang keras mahasiswa karena menghilangkan sebuah ajang aktualisasi gerakan mahasiswa. Ini dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan rektorat terhadap gerakan mahasiswa. Akhirnya pola relasi antara gerakan mahasiswa dan rektorat seperti dua pemerintahan yang tentu tidak imbang. Mahasiswa sebagai sebuah pemerintahan telah diserang eksistensinya oleh pihak yang memiliki otoritas yang mengancam. Bukankah kampus adalah sebuah institusi pendidikan? Bukankah semestinya rektorat yang notabenenya adalah dosen tetap menjadi 'pendidik' mahasiswa?
Organisasi mahasiswa adalah sebuah pemerintahan mahasiswa (student government) yang otonom. Di ITB tidak mengenal senat mahasiswa. Mahasiswa memiliki presiden yang dipilih melalui pemilu langsung. Setiap jurusan memiliki wakil senator yang duduk di badan legislatif. Presiden dibantu menteri-menteri berbagai bidang sesuai kebutuhan. Ada ketua himpunan yang memimpin warga jurusan masing-masing. Artinya secara sosiologis, organisasi mahasiswa sudah lengkap sebagai sebuah masyarakat lengkap dengan berbagai aturan sosial baik yang formal maupun yang informal. Bentuk ini sangat efektif menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa untuk kehidupan pasca kampus. Otonomi gerakan mahasiswa ini penting untuk dijaga sehingga pendekatan-pendekatan yang dilakukan juga mesti memperhatikan aspek psikologis dan politis. Bagaimanapun kampus-kampus berpotensi besar mencetak pemimpin bangsa ke depan.
Namun demikian, organisasi mahasiswa di kampus manapun harus berani melakukan otokritik terhadap tradisi ospek ini. Mahasiswa harus bisa membuktikan kedewasaannya dengan tanggung jawab yang besar terhadap apa yang dilakukannya. Mahasiswa harus kembali mengedepankan tradisi intelektual ketimbang tradisi kekerasan yang tak disadari berpengaruh buruk bahkan menyebabkan kematian bagi mahasiswa lain. Gerakan mahasiswa harus berani 'open mind' melihat mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan mahasiswa harus kembali memikirkan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang membutuhkan banyak sarjana kontributif. Bukankah teknologi berkembang merupakan jawaban persoalan yang dihadapi masyarakat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar