Bus tuyul biru Kajen-Karangkobar melaju pelan mendaki gunung menyusuri rerimbunan hutan karet. Aku duduk di jok paling belakang bersebelahan dengan seorang ibu pedagang, laki-laki setengah baya dan seorang nenek. Tak ada yang bersuara. Hanya deru mesin yang menyapa pepohonan yang saling berbisik bergesekan dengan sapaan angin pegunungan.
Aku melewati pegunungan Kabupaten Pekalongan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Kunikmati perjalanan dari kota ke kota. Kurasakan bahagia melihat semua orang bekerja. Ada yang bercocok tanam, menadah getah karet, mencari kayu bakar, mencari rumput dan membeli barang dagangan. Kutemukan semangat yang menyala menghias wajah tenang warga desa. Mereka ciptakan surga dalam hatinya.
Tak lupa jua kusapa begitu banyak wajah sengaja bergaya di sepanjang jalan dan menyebutkan nama dan gelarnya lengkap. Terbayang saat ini rakyat berpesta, begitu penting centangan jari yang tak kenal tinta sekalipun. Demi sebuah kursi yang mendatangkan uang bermilyar-milyar. Kadang kutemukan kalimat-kalimat persuasif bahkan bersaut-sautan membanggakan diri atau kelompoknya. Berwarna warni bendera begitu meriah, saatnya setiap kepala memilih siapa yang bisa ditegih janjinya. Semoga selamanya rakyat negeriku dijabat mesra pemimpinnya.
Kulihat seorang ibu yang duduk di kursi depan mengedarkan permen untuk penumpang sebelahnya. Pengembaraanku sejenat terhenti, sebutir CAPILANO'S coklat terulur dari tangan keriput nenek di sebelahku. Diperlezat seulas senyum tulus kunikmati permen kenangan di bus tuyul Kajen-Karangkobar. Permen persaudaraan.
Dan aku kembali memandangi hijaunya vegetasi lereng pegunungan, sambil kunikmati deg-deganku hendak bertemu kekasihku yang sudah menungguku di Karangkobar sejak jam 9 tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar