Dua hari lagi tepatnya 1 April 2012, harga Bahan Bakar Minyak naik lagi. Dan setiap kali harga BBM naik, diskursus soal argumentasi mengapa harus naik menjadi topik diskusi yang tidak pernah berakhir. Pemerintah menyajikan angka-angka asumsi harga minyak dunia dan hitung-hitungan yang menjadi alasan. Dan di jalanan bergulir pasti demonstrasi mahasiswa dan buruh yang mengecam kebijakan pemerintah yang tak populer ini.
Alasan utama pemerintah adalah karena subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat berpendapatan tinggi. Karena itu lebih baik subsidi ini dikurangi, dan ke depan harga minyak dalam negeri diharapkan mengikuti harga minyak dunia. Pertanyaannya, mengapa harus mengikuti harga minyak dunia?
Kalau Pak Revrison Baswir bilang, ini jelas liberalisasi sektor energi kita. Bukan hanya minyak tetapi juga listrik dengan adanya UU kelistrikan. Pengelolaan minyak di Indonesia saat ini dimonopoli oleh BUMN Pertamina. Ini sesuai dengan UUD 1945 dimana bumi, air dan kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai negara.
Para pendiri republik ini sudah mengantisipasi dengan baik soal aset negara ini dengan pasal itu. Ini relevan dengan konsep Islam. Mungkin tafsirnya yang perlu ditinjau ulang. Apakah energi itu statusnya milik negara, atau milik siapa? Konstitusi mengamanatkan pemanfaatan energi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Apakah dengan dikelola BUMN minyak bisa memberi kemakmuran pada masyarakat? Lalu, mengapa kita harus tunduk pada harga minyak dunia yang membuat harga-harga naik dan menambah beban ekonomi masyarakat? Kita menjual minyak mentah ke luar negeri, lalu kita mengimpor bahan baku dari luar negeri. Apakah tak bisa kita swasembada minyak dari hulu ke hilir?
Mana yang lebih besar manfaatnya, hasil penjualan minyak ke luar negeri atau memenuhi semua kebutuhan minyak dalam negeri?
Jika benar yang terjadi saat ini liberalisasi energi, dan dampaknya menambah beban ekonomi masyarakat maka jelas ini bertentangan dengan UUD 1945. Namun pelanggaran konstitusi tidak serta merta akan membuat presiden mundur atau Meneg ESDM diberhentikan. Kita bukan China atau Jepang, meskipun 70 persen APBN habis untuk belanja birokrasi Presiden tetap turun dari pesawat kepresidenan dengan karpet merah. (SBY baru pulang dari China 29/03/2012 dan di penjuru nusantara berlangsung aksi ricuh)
Penawar Rasa Sakit si Miskin
De javu kurasakan setiap kali BBM naik, karena pemerintah langsung mengucurkan berbagai program subsidi untuk masyarakat miskin yang sifatnya sementara. Dahulu namanya Bantuan Langsung Tunai (BLT), sekarang namanya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Tetapi bentuknya sama, pembagian dana tunai untuk masyarakat miskin.
Bentuk cash transfer menurut pemerintah diyakini bisa mengurangi beban masyarakat miskin menghadapi dampak kenaikan harga BBM. Apakah BLT benar bisa mengurangi beban masyarakat?
Subsidi tunai ibarat penawar rasa sakit, begitu hilang efek obatnya rasa sakitnya terasa kembali. Bahkan bisa menyebabkan kecanduan atau bahkan lama-lama akan mati rasa.
Pertanyaan sederhananya adalah apakah dengan adanya BLT akan bisa membuat masyarakat miskin keluar dari kemiskinan? Lalu, bagaimana dengan cerita ribuan masyarakat yang berdesak-desakan menerima BLT hingga selalu ada korban?
Teringat ilmu planologi yang kupelajari, jika pemerintah ingin mengembangkan sebuah wilayah maka ada beberapa hal strategis yang harus diinvestasikan; energi, transportasi, dan kopmunikasi. Tiga hal ini akan memicu pertumbuhan ekonomi. Bukankah peradaban Babilonia hancur karena kehabisan energi?[]
Gedung Nusantara 1 Ruang 341, Jakarta, sambil mengikuti riuh rendah demonstrasi di depan gedung dpr melalui televisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar