Kamis, 01 Maret 2012

SOAL CARA MENGKRITIK KITA

Korupsi adalah menyalahgunakan kekuasaan atau kewenangan untuk keuntungan pribadi atau golongan. Semakin dekat dengan anggaran negara, semakin besar kesempatan untuk korupsi. Banyak orang yang dipenjara karena korupsi. Tapi apa yang berubah sesudah seseorang dikatakan korupsi.

Pertemuanku dengan Bang Puteh (Abdullah Puteh) dua tahun lalu setidaknya mengubah cara pandangku. Seseorang yang korupsi itu ternyata punya peran penting dalam proses perdamaian Aceh. Mendengar tutur katanya, aku bertanya-tanya dalam hati apa ada yang salah dengan perlakuan masyarakat terhadap koruptor.

Mungkin bukan hanya koruptor, tetapi juga dengan caraku mengkritik orang lain terutama pemerintah yang sering aku kritik (baca:pekerjaanku). Mengapa kita mesti menyalahkan orang yang bersalah? Tidak ada orang yang ingin disalahkan, termasuk orang yang bersalah. Memang mengaku salah sangatlah berat.

Mungkin yang salah bukan kritikan yang aku buat. Tetapi perasaanku ketika mengkritik masih disertai kebencian, kemarahan, dan kesombongan. Padahal oarng yang aku kritik itu adalah orang yang sudah bekerja. Badannya lelah melaksanakan tugasnya. Memang banyak kesalahan dalam pelaksanaannya tetapi tetap ada kebaikan yang dilakukannya.
Teringat pelajaran surat Al Ashr dari teh Teja lima tahun. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran adalah salah satu pilar tegaknya masyarakat Islam. Perintah ini adalah salah satu indikasi Allah bahwa kita tak bisa sholeh sendirian atau salah sendirian. Semua pasti terkait orang lain di sekitar kita. Saling menasehati adalah sarana untuk menjaga masyarakat muslim selalu istiqomah dalam ajaran Islam.

Salah satu yang berbekas adalah adab saling menasehati. Yang memberi nasehat tidak boleh merasa lebih benar, lebih baik, lebih sholeh dari yang diberi nasehat. Yang diberi nasehat tidak boleh keras kepala, harus lapang dada menerima kritik. Cara menasehati antarsesama muslim harus dilakukan dengan cara dan bahasa yang baik. Menasehati yang tidak melukai. Tidak boleh dilakukan di depan umum dan dengan pilihan bahasa yang lembut. Dengan demikian, proses menasehati tidak boleh menggeser rasa ukhuwah seujung rambutpun. Bahkan sebaliknya membuat ikatan semakin kokoh.
Saling menasehati harus didasari cinta bukan marah atau benci. Termasuk soal korupsi.

Pelajaran berharga Allah berikan melalui kisah sahabat Rasul Kaab bin Malik yang absen dari medan pertempuran. Hukuman untuk Kaab bin Malik adalah didiamkan. Tidak boleh seorangpun menyapa, berbicara bahkan mengucapkan salam. Sampai taubat Kaab bin Malik didengar Allah, hingga Allah sendiri yang membebaskannya. Maka malam itu sesudah genap 50 hari, turunlah sebuah ayat Al Qur’an.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

Maka para sahabat yang lain memeluk Kaab dan memberikan selamat karena Allah sudah mengampuni dosanya. Jadi, meski telah bersalah dan dihukum Kaab tetap dicintai karena sudah bertaubat. Di sinilah kemuliaan Islam.

Allah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berhubungan dengan sesama muslim. Kita mesti saling menjaga supaya tidak terjerumus pada dosa dan kemaksiatan.
Hukum yang korupsi, tetapi jika sudah bertaubat maka tidak boleh kita membencinya. Selama dia masih bersyahadat, shalat dan puasa. Bukan hanya korupsi, tetapi juga kesalahan yang lain.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar