11 Agustus 2015
“Bagaimana caranya mengirim 3
anak laki-kalinya ke pesantren sejak umur 6-7 tahun”. Bunda Rahmi, ibunya Ardhi
Rahman, Arsyi, Musa, Nurin, Amiroh dan Ghifari. Beliau istri dari Ketua Umum
Syarikat Islam, ormas tertua di Indonesia.
Rasa penasaranku akhirnya
kuungkapkan juga pada beliau yang saat ini tinggal di kota Bogor. Kami datang
bersama keluarga Akbar, berarti kami berempat, Seno (4 tahun), Nambi (5 tahun),
Sabrang (3tahun)dan Maryam (10 bulan). Begitu dibukakan pintu, kami menunggu
sebentar. Lalu keluarlah Bunda Rahmi yang langsung menyambut hangat anak-anak
dengan nasyid nasyid. Bunda bernyanyi riang sambil menggendong Maryam. Semua
anak-anak langsung lari girang.
Bunda bilang, eh bunda punya
rahasia...siapa mau tahu..? semua langsung berteriak..akuuuu....semua mengekor
bunda. Ternyata Bunda Rahmi punya 4 pot bunga besar yang di dalamnya ada
ikan-ikan kecil yang berenang-renang di sela-sela ganggang hijau. Dan yang
membuat takjud lagi, ada satu pot yang penghuninya adalah keluarga kodok. Ada
anak kodok kecil sekali berwarna hitam. Seno pun sekarang percaya kalau ada
kodok berwarna hitam dan coklat.
Setelah melihat ikan dan kodok
krucil-krucil langsung naik ayunan, semua gembira. Sambil mendengar Bunda Rahmi
yang terus bercerita tentang bermacam-macam. “Bunda punya rahasia lagi. Tapi,
ada syaratnya. Harus bergiliran dan bermainnya di teras saja tidak masuk
rumah.”. apa ya, semua penasaran. Ternyata mobil-mobilan besar untuk dinaiki.
Asiiiik...semua berlarian. Mereka bergantian naik. “Ada lagi. Tapi ini untuk
dedek Maryam.” Bunda masuk lagi dan keluar membaca tenda berukuran 50x50 cm
berwarna pink bergambar Frozen. Yeee....
Anak-anak semua gembira...
Setelah bercanda-canda dan
bertukar cerita tentang kabar sekarang. Akupun tak ingin menyia-nyiakan waktu.
Aku ingin mendengar cerita tentang bagaimana memilih pendidikan untuk
anak-anak.
Kata Bunda, saat itu Pak
Amrullah, suami Bunda mengirim utusan untuk mendatangi pesantren-pesantren dari
Jawa Timur hingga Jawa Barat. Lalu pilihannya jatuh pada pesantren Mbah Kyai
Arwani Kudus Yanbu’ul Quran. Lalu Ardhi anak pertama diajak kesana. Diajak
mengunjungi beberapa pesantren tapi suka pesantren salaf itu.
Cerita lucunya, dulu anak-anak di
pesantren sering tertular penyakit kulit, bisul, gudhig, dll karena masalah
kebersihan. Setiap seminggu sekali Bunda pergi ke Kudus menengok juga untuk
merawat anak-anak. Jadi, selama di pesantren tidak dilepas begitu saja. Bahkan
Bunda banyak memberikan masukan kepada pesantren. Bahkan Pak Amrullah semasa
menjadi ketua kumpulan wali murid juga berjasa memperbaiki manajemen organisasi
sekolah. Pak am mendatangkan tim dari Nurul Fikri untuk berbagi tentang
manajemen sekolah.
Pelajaran penting:
Pertama, luruskan niat. Niatkan untuk mendidik anak menunaikan
amanah Allah sebaik-baiknya. Jangan sampai kita hanya ingin untuk pamer atau
prestise orang tua. Zaman terus berubah, bekal apa yang ingin kita siapkan
untuk anak-anak menghadapi dunianya kelak yang bisa jadi kita tidak fasih
memahaminya kelak. Maka bekal terbaik adalah Al Qur’an, tuntunan dari Allah
yang akan menjaganya, membimbingnya. Mari berharap kebarokahan Al Qur’an agar
kelak anak-anak menjadi anak yang dirindukan umat hari ini. Suatu hari mereka
akan membawa kejayaan Islam di muka bumi. Maka bekal apakah yang lebih baik
dari Al Qur’an.
Bunda bercerita tentang
karyawannya yang gagal memasukkan anaknya yang cerdas ke pesantren. Anaknya
cerdas, hafalannya banyak. Tetapi dia dipaksa masuk pesantren. Dan akhirnya
saat seleksi juga tidak bisa masuk karena yang terpaksa boleh pulang oleh Pak
Kyai.
Kedua, menanamkan kecintaan
kepada Al Quran sejak dini. Anaknya harus senang. Jangan sampai karena obsesi
orang tua, anak menjadi korban. Mencintai quran tentu bukan terjadi tiba-tiba.
Harus ditanamkan sejak dini. Membiasakan anak-anak akrab dengan alquran sejak
dini.
Ketiga, melatih anak untuk
mandiri. Kalau hidup di pesantren, anak harus pandai merawat diri sendiri.
Mulai dari toilet training, mandi, berpakaian, makan, belajar. Anak harus punya
kesiapan mental untuk bersosialisasi di luar sana.
Terimakasih bunda Rahmi telah
mengajarkan banyak hal pada kami. Tapi yang paling berkesan adalah sambutan
yang hangat, kata-kata yang lembut, pelukan yang menentramkan dari bunda. Ada
semangat yang sulit dijelaskan. Terpancar begitu saja dari wajahmu. Membuat
rindu ingin bertemu lagi dan lagi. Salam rindu selalu YANGDA...(eyang bunda....)[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar