Kamis, 22 Oktober 2015

NGANGSU KAWERUH SAMA YANGDA RAHMI



11 Agustus 2015

“Bagaimana caranya mengirim 3 anak laki-kalinya ke pesantren sejak umur 6-7 tahun”. Bunda Rahmi, ibunya Ardhi Rahman, Arsyi, Musa, Nurin, Amiroh dan Ghifari. Beliau istri dari Ketua Umum Syarikat Islam, ormas tertua di Indonesia.

Rasa penasaranku akhirnya kuungkapkan juga pada beliau yang saat ini tinggal di kota Bogor. Kami datang bersama keluarga Akbar, berarti kami berempat, Seno (4 tahun), Nambi (5 tahun), Sabrang (3tahun)dan Maryam (10 bulan). Begitu dibukakan pintu, kami menunggu sebentar. Lalu keluarlah Bunda Rahmi yang langsung menyambut hangat anak-anak dengan nasyid nasyid. Bunda bernyanyi riang sambil menggendong Maryam. Semua anak-anak langsung lari girang. 

Bunda bilang, eh bunda punya rahasia...siapa mau tahu..? semua langsung berteriak..akuuuu....semua mengekor bunda. Ternyata Bunda Rahmi punya 4 pot bunga besar yang di dalamnya ada ikan-ikan kecil yang berenang-renang di sela-sela ganggang hijau. Dan yang membuat takjud lagi, ada satu pot yang penghuninya adalah keluarga kodok. Ada anak kodok kecil sekali berwarna hitam. Seno pun sekarang percaya kalau ada kodok berwarna hitam dan coklat. 

Setelah melihat ikan dan kodok krucil-krucil langsung naik ayunan, semua gembira. Sambil mendengar Bunda Rahmi yang terus bercerita tentang bermacam-macam. “Bunda punya rahasia lagi. Tapi, ada syaratnya. Harus bergiliran dan bermainnya di teras saja tidak masuk rumah.”. apa ya, semua penasaran. Ternyata mobil-mobilan besar untuk dinaiki. Asiiiik...semua berlarian. Mereka bergantian naik. “Ada lagi. Tapi ini untuk dedek Maryam.” Bunda masuk lagi dan keluar membaca tenda berukuran 50x50 cm berwarna pink bergambar Frozen. Yeee....

Anak-anak semua gembira...

Setelah bercanda-canda dan bertukar cerita tentang kabar sekarang. Akupun tak ingin menyia-nyiakan waktu. Aku ingin mendengar cerita tentang bagaimana memilih pendidikan untuk anak-anak. 

Kata Bunda, saat itu Pak Amrullah, suami Bunda mengirim utusan untuk mendatangi pesantren-pesantren dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Lalu pilihannya jatuh pada pesantren Mbah Kyai Arwani Kudus Yanbu’ul Quran. Lalu Ardhi anak pertama diajak kesana. Diajak mengunjungi beberapa pesantren tapi suka pesantren salaf itu.

Cerita lucunya, dulu anak-anak di pesantren sering tertular penyakit kulit, bisul, gudhig, dll karena masalah kebersihan. Setiap seminggu sekali Bunda pergi ke Kudus menengok juga untuk merawat anak-anak. Jadi, selama di pesantren tidak dilepas begitu saja. Bahkan Bunda banyak memberikan masukan kepada pesantren. Bahkan Pak Amrullah semasa menjadi ketua kumpulan wali murid juga berjasa memperbaiki manajemen organisasi sekolah. Pak am mendatangkan tim dari Nurul Fikri untuk berbagi tentang manajemen sekolah.

Pelajaran penting:

Pertama, luruskan niat. Niatkan untuk mendidik anak menunaikan amanah Allah sebaik-baiknya. Jangan sampai kita hanya ingin untuk pamer atau prestise orang tua. Zaman terus berubah, bekal apa yang ingin kita siapkan untuk anak-anak menghadapi dunianya kelak yang bisa jadi kita tidak fasih memahaminya kelak. Maka bekal terbaik adalah Al Qur’an, tuntunan dari Allah yang akan menjaganya, membimbingnya. Mari berharap kebarokahan Al Qur’an agar kelak anak-anak menjadi anak yang dirindukan umat hari ini. Suatu hari mereka akan membawa kejayaan Islam di muka bumi. Maka bekal apakah yang lebih baik dari Al Qur’an.

Bunda bercerita tentang karyawannya yang gagal memasukkan anaknya yang cerdas ke pesantren. Anaknya cerdas, hafalannya banyak. Tetapi dia dipaksa masuk pesantren. Dan akhirnya saat seleksi juga tidak bisa masuk karena yang terpaksa boleh pulang oleh Pak Kyai.

Kedua, menanamkan kecintaan kepada Al Quran sejak dini. Anaknya harus senang. Jangan sampai karena obsesi orang tua, anak menjadi korban. Mencintai quran tentu bukan terjadi tiba-tiba. Harus ditanamkan sejak dini. Membiasakan anak-anak akrab dengan alquran sejak dini.

Ketiga, melatih anak untuk mandiri. Kalau hidup di pesantren, anak harus pandai merawat diri sendiri. Mulai dari toilet training, mandi, berpakaian, makan, belajar. Anak harus punya kesiapan mental untuk bersosialisasi di luar sana. 

Terimakasih bunda Rahmi telah mengajarkan banyak hal pada kami. Tapi yang paling berkesan adalah sambutan yang hangat, kata-kata yang lembut, pelukan yang menentramkan dari bunda. Ada semangat yang sulit dijelaskan. Terpancar begitu saja dari wajahmu. Membuat rindu ingin bertemu lagi dan lagi. Salam rindu selalu YANGDA...(eyang bunda....)[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar